Assalamu'alaikum...
Bagi kalian, makhluk-makhluk yang sudah baca posting-an gue, pasti sudah enggak asing lagi dengan FUNtastic Four. Betul? Betul dong. Nah, kalau lo termasuk salah satu makhluk yang belum baca, lo bisa baca di sini FUNtastic Four .
Setelah gue iseng membuat artikel enggak jelas itu, otak gue semakin memikirkan hal-hal yang enggak jelas juga. Salah satunya mengedit gambar dari Fantastic Four yang asli, menjadi gambar yang penghuninya tidak lain dan tidak bukan adalah Bagas, Billi, Gue, dan Irvan, alias FUNtastic Four. Mengedit gambar tersebut tidaklah mudah, gue harus mencocokkan antara wajah yang enggak jelas dengan badan asli yang tentunya keren banget. Tapi gue tetap berusaha se-maksimal mungkin. Demi kalian, Guys. :')
Yang pertama gue edit adalah gambar Bagas, yang kedua adalah gambar Irvan. Karena tidak ada hal rumit dari gambar yang mereka punya, alhasil gue bisa mengeditnya dengan mudah dan cepat. Berdeda pas gue edit punya Billi. Karena The Thing mukanya merah dan memiliki tekstur seperti batu, gue kesulitan pas ngeditnya. Yang gue bingung adalah bagaimana cara muka Billi menjadi memiliki tekstur seperti batu. Awalnya gue berpikir untuk pergi ke rumah Billi sembari membawa batu bata, ketika Billi keluar, gue timpuk itu batu, lalu gue foto. Tapi karena Billi tidak sedang berulang tahun, gue terpaksa mengurungkan niat gue. Balik lagi ke topik ulang tahun. Xoxo. Akhirnya, gue mengerahkan seluruh kemampuan edit-mengedit gue, dan...jadilah! Ya, walaupun tidak terlalu mirip dengan yang asli, setidaknya badannya mirip.
Nah, giliran gue mengedit diri gue sendiri sekarang. Gue bingung banget pas mengedit gambar gue. Masalahnya di gambar asli itu kan postur tubuh cewe, kalau misalkan gue cuma mengedit bagian kepala, masa, gue punya -sensor- gitu? Kan enggak mungkin banget, enak di gue entar. Parah... Karena banyak persoalan, akhirnya gue memutuskan untuk mengedit bagian kepala dan bagian badan. Alhasil...jadilah! Lebih kelihatan macho gitu kan.
Tetapi, bukan hanya gue yang mengadit gambar Fantastic Four. Si Batu, eh Billi juga mengedit ternyata. Sekarang gue akan menampilkan hasil edit-an Billi terlebih dahulu. Cekidot!
Ini nih yang gue bayangkan tadi. Masa, gue punya -sensor- ?! Kan enggak mungkin...
Nah, dibawah ini gambar hasil edit-an gue. Hasil jerih payah gue. Hasil gue mengemis di pinggir jalan. Enggak juga sih. Cekidot!
Bagaimana? Bagus, kan? Bagus dong. Ya, tidak penting sebenarnya gambar bagus atau tidak. Yang penting adalah kami hadir untuk anda. Jika anda membutuhkan kami... just call us!
Intinya, jangan pernah memikirkan hal-hal yang tidak jelas jika anda tidak ingin terjebak dalam ketidak-jelasan. Sama seperti muka anda. Ampun, Boss!
FUNtastic Four
Assalamu'alaikum...
Hello, Guys! Kali ini gue mau
nge-post tentang super hero. Tentu berbeda dengan super hero yang sudah kalian kenal.
Apalagi kalau dibandingkan sama super hero
Barat. Walaupun hanya beda sedikit, paling perbandungannya 1 berbanding…20
doang. Itu perbandingannya jauh, Bego!
Nah, kali ini gue mau
membandingkan tim super hero barat dengan tim super hero punya gue. Keren kan
punya tim super hero? Keren, Bro!
Yang mau gue bandingkan adalah Fantastic Four di dunia barat dengan FUNtastic
Four di dunia gue. Lo heran kenapa nama tim gue FUNtastic Four? Sama gue juga
heran. Eh, Kampret! Enggak deng, gue
tau. Alasannya adalah karena tim gue beda fungsi sama tim barat. Kalau fungsi
Fantastic Four ya…menolong masyarakat yang sedang susah gitu kan. Nah, kalau
FUNtastic Four fungsinya…enggak ada kayaknya. Asli, gue juga emang enggak tau
fungsinya apa. Karena memang kita lebih banyak melakukan hal tolol.
Personil FUNtastic Four adalah
Bagas, Irvan, Billi, dan pastinya…gue. Bagas itu sifatnya sama kayak Human
Torch di Fantastic Four. Dia cenderung pemarah tetapi bedanya, Bagas marah
dengan sikapnya yang konyol. -_- caranya
gimana? Ya…pokoknya begitu lah. Kalau Irvan, sama kayak Mr. Fantastic yang
punya tubuh super elastis. Karena tingkat elastisitas yang tinggi, kalau lo
sentuh pipinya, seketika langsung timbul lubang gitu. Itu lesung pipi kali… Kalau Billi, dia sama kayak The Thing. Kejam
juga sih gue mempersamakan dia dengan The Thing, tetapi nyatanya mirip banget. Yaa Tuhan maafkan gue, Tuhan. Nah,
terakhir adalah gue. Karena yang tersisa adalah The Invisble Woman, itu artinya
gue mirip sama…oh enggak, gue enggak mirip sama dia. Gue kan cowo tuh, lah dia
kan cewe. Jadi, gue ganti jadi The Invisible Man. Gue heran juga dari sebelah
mananya gue mirip, gue kan enggak bisa menghilang. Walaupun bisa, kayaknya
lebih cocok dipanggil The Tuyul Man daripada The Invisible Man. Cocok!
Persamaan dari masing-masing
karakter personil FUNtastic Four itu…kita cenderung disebut pemberontak juga. Tetapi
berontak di sini dalam artian berontak yang positif atau bisa disebut juga
kritis. Gue juga enggak ngerti kenapa kami bisa mempunyai pikiran yang sama tetetapi
berbeda dengan orang lain. Mungkin kita sudah punya ikatan batin kali ya. Geli, Bro… Tetapi gue juga sempet mikir
ini tuh memang sifat kami yang kritis atau pemikiran kami yang ngaco. Tak apa
lah ngaco juga, yang penting tetap solid, kan? Aselole joss!
Selain sikap kami yang kritis,
berontak, dan juga konyol. Kami juga sering melakukan hal yang pada umumnya
sering dilakukan oleh seseorang jika sahabatnya berulang tahun. Yaitu melakukan
proses bullying. Ya, memang kejam. Tetapi
hal ini dilakukan agar orang yang berulang tahun itu mendapatkan kenangan yang
tidak akan pernah ia lupakan dari sahabat-sahabatnya.
Nah, target proses bullying yang akan gue ceritakan kali
ini adalah The Thing alias Billi. Sekitar satu bulan yang lalu, tepat ia
menginjakkan usia kali ke 17. Pada awalnya, memang enggak ada niat gue sama
yang lain buat nge-bully dia. Tetapi
gue pikir kembali, sayang banget kalau enggak ada. Rasanya tuh kurang pas, sama
enggak pas-nya kayak ketek tanpa bulu ketek. Akhirnya gue ajak Bagas sama Irvan
untuk merencanakan proses ini. Tanpa sang batu eh Billi tau tentunya.
Kami berkumpul di kantin,
sekaligus makan siang. Gue membuka pembicaraan,
Gue : Jadi, gimana nih rencana kita?
Bagas dan Irvan saling menoleh
sembari mengangkat bahu mereka.
Bagas : Ga tau, gimana emang?
Tangan gue menggaruk dagu sembari
berharap ide bermunculan. Otak lo di dagu
emang, ya?
Gue : Nah! Kalau kita kempes-in aja ban motornya terus spion juga
kita umpet-in. Gimana?
Bagas ketawa ngakak. Kayak orang
gila tuh anak.
Irvan : Caw!
Kami bertiga beranjak dari
kantin, menuju motor target kami. Sampai di depan target, tingkah kami sudah
kayak maling banget. Gue sendiri rada takut. Takut ada guru yang lewat terus
lapor ke Kepala Sekolah, kami dikeluarkan dari sekolah, kami bertiga mengamen
di pinggir jalan, dan hidup sengsara selamanya. Bersama. Lebay banget…
Tetapi kami enggak perduli dengan
apa yang terjadi. Kami tetap melancarkan aksi kami. Ban depan dan ban belakang
sudah habis anginnya. Kaca spion sebelah kanan sudah berhasil kami lepas.
Nah, ada masalah pas melepas kaca spion sebelah kiri. Kebetulan gue yang
bertugas untuk mengecek keadaan sekitar. Pas gue liat ke arah belakang, gue
kaget banget.
Gue : Kampret! Ada Billi, coy! Kabur, kabur!
Bagas menoleh ke belakang dan
menampilkan ekspresi yang kaget juga. Sedangkan Irvan, dia lagi sibuk melepas
kaca spion. Setelah kaca spion terlepas, kami langsung mengeluarkan jurus
andalan kami. Yaitu…jurus seribu bayangan. Ya, kami lari sekuat tenaga kami
layaknya sedang dikejar oleh anjing. Padahal babi sebetulnya.
Karena terburu-buru, kami
bersembunyi di sekre osis. Dugaan awal kami, Billi akan kembali ke sekre untuk
mengejar kami. Ssudah lama kami menunggu dan bersembunyi, ternyata enggak ada.
Akhirnya kami keluar dari sekre dan menghelakan nafas sebentar. Seketika Irvan
menyeloteh,
Irvan : Jadi, kita udah ngerjain si Billi tapi enggak bakal dikasih
kue nih?
Kami memang belum sempat
memikirkan mau dikasih apa target kami. Yang kami pikirkan hanya cara agar
berhasil mengempeskan bannya Billi. Alhasil berhasil, dan kami kebingungan
hadiahnya apa. Emang parah.
Bagas : Iya bener, kasih apa nih? Uang juga dari mana? Aduh…parah!
Salah satu temen gue, namanya
Gita. Memberi usulan kepada kami,
Gita : Kasih kue ulang tahun aja. Kan murah tuh, cepet pula.
Gue, Irvan, dan Bagas
mengangguk-angguk. Lalu kami bertiga pergi ke toko kue dekat sekolah. Setelah dapat,
kami langsung mengecek posisi Billi, ternyata dia sedang di tempat tambal ban. Mendengar
hal ini, kami langsung meluncur ke sekolah. Lama gue tunggu, target kami enggak
muncul-muncul ternyata. Pas gue Tanya lagi, ternyata…ban target kami bocor!
Sumpah, enggak kepikiran sama gue kenapa tuh ban bisa bocor. Tak lama kemudian,
handphone gue muncul SMS dari Billi, “Ham, kalau mau pada
pulang, duluan aja. Ban motor ane bocor, tadi motor ane enggak didorong
soalnya, tapi di…naik-in.”
Kampret emang. Dia emang enggak
nyadar badan kayaknya. Badan kayak batu juga, ya pasti bocor lah bannya.
Sementara kondisi di sekolah, ada yang kesel dan ada juga yang ketawa gara-gara
ketolol-an Billi. Ya, kita maklumi saja-lah. Maklum batu. Jahat banget. Hahahaha
Sembari menunggu kabar ban motor
Billi yang sedang koma, kami di sekolah mempersiapkan kue yang sudah dibeli.
Dimulai dari mencicipi kue, niat kami baik, hanya ingin mengecek bahwa enggak
ada racun di kue tersebut. Sampai mempersiapkan lilin yang akan kami tancapkan
ke kue. Karena niat kami untuk menjahili Billi, lilin yang kami gunakan pun
bukan lilin sembarangan. Kami memakai…lilin magic. Jadi, pas dia menuip lilin,
mula-mula lilinnya memang mati. Tetapi beberapa detik kemudian akan menyala
lagi dengan sendirinya. Bisa digambarkan alur nyala-mati lilin seperti ini:
Lilin nyala à Dititup à Lilin mati à Nyala lagi à Ditiup à Lilin mati à Nyala lagi. Seterusnya akan seperti itu. Emang niat banget
mennjahili target. Hihi.
Karena terlalu lama menunggu, dan
matahari pun sudah ingin meninggalkan kami, akhirnya kami melakukan rencana
cadangan yaitu membuat kejutan di…tempat tambal ban. Memang miris, tetapi
memang kenyataannya harus seperti ini. Kami, pergi ke tempat kejadian sembari
membawa kue yang telah dipersiapkan. Begitu sampai…surprise! Happy birthday,
Billi. Happy birthday, Billi. Gue melihat perubahan yang cukup signifikan
dari wajah Billi. Asalnya cemberut, melihat kami datang menjadi kaget, dan
ketika kami beri kue menjadi bahagia. Ya, begitulah Billi. Bahagia ketika
melihat makanan.
Awalnya gue kira bakal gagal
untuk merencanakan hal ini, karena kami merayakannya di tempat tambal ban. Tetapi,
rencana kami berhasil! Ya, setidaknya berhasil memberi satu kenangan manis yang
tak akan pernah dilupakan oleh Billi tentang kami. Tentang sahabatnya.
Ada satu hal yang gue senang
ketika merakayan atau menjahili teman apalagi sahabat yang sedang ulang tahun.
Hal itu adalah gue masih sempat untuk memberikan kenangan manis kepada sahabat
gue. Sederhana memang, tetapi ini tentang kebahagiaan. Kebahagiaan yang sulit
didapat di kehidupan ini. Kebahagian dari sahabat.
This is our story, Guys! FUNtastic Four~
Diam bukan berarti tidak berkomunikasi
Assalamu'alaikum...
Pernah enggak sih lo merasakan
salting (baca: salah tingkah)? Gue pernah. Gue juga bingung sebenarnya ini
salting atau bukan. Yang pasti gue bersikap aneh. Gue tiba-tiba pake kerudung,
pake tank-top, pake
rok, dan ber-harlem shake ria di tengah lapang sekolah. (Ini
lebay).
Gue
sempet bersikap aneh, bahkan sampai saat ini gue masih bersikap aneh. Gue
salting bukan saat pake kolor di bagian depan, kayak Superman. Bukan juga saat badan gue berubah jadi warna ijo, kayak Hulk. Apalagi saat gue pake sepatu tapi
dibungkus keresek padahal enggak hujan, kayak Usman77. Itu enggak banget dan itu bukan
gue banget. Gue salting saat gue berpapasan dengan seseorang yang pernah gue
bahas sebelumnya. Ya, si cinta
pandangan pertama gue.
Gue
dikenal dengan cowok yang cukup ramah walaupun memiliki wajah jutek. Di kelas
juga gue akrab dengan banyak orang, termasuk cewek. Tapi enggak tau kenapa,
sifat gue berubah total saat ada dia. Mungkin karena gue beda grade sama dia kali. Tapi
gue rasa enggak segitunya, karena gue juga akrab sama temen-temen dia. Padahal,
gue sama dia itu gabung dalam organisasi yang sama di sekolah. Tapi jarang
banget gue ngobrol. Gue cuma bisa menatap wajahnya saat dia lagi ngobrol sama
orang lain. Dengan sekejap gue alihkan pandangan gue saat dia melihat ke arah
gue. Emang pengecut lo, Ham.
Di
tengah ke-pengecut-an gue. Gue juga selalu bertanya-tanya dalam diri gue, kenapa
ini bisa terjadi. Temen gue namanya Nidia juga nanya "Lo bukannya suka
sama *beep*, ya? Ko kayak yang jarang ngobrol gitu? Cemen ah!". Gue
cuma bisa jawab "Hmm, gitu ya?". Sumpah,
itu bukan jawaban!
Gue
berpikir memang gue jarang ngobrol sama dia. Tapi se-enggaknya gue masih bisa
berkomunikasi sama si doi. Lewat sms misalnya.
Ya walaupun enggak banyak orang yang tau. Cukup gue dan dia aja yang tau. Semua orang yang baca ini pasti tahu, bego!
Inti dari segala inti adalah Gue diam, bukan berarti enggak
berkomunikasi. Gue masih bisa berkomunikasi dengannya dari hati ke hati. Memang
tidak banyak orang yang tau. Cukup gue aja yang tau bagaimana cara gue
berkomunikasi dengan si cinta
pandangan pertama gue.
Wassalamu'alaikum...
Langganan:
Postingan (Atom)

