Kehidupan Absurd

0 komentar

Bagi kalian yang menganggap hidup itu indah karena cinta, itu benar. Tapi gue kurang setuju. Karena ada hal yang membuat hidup menjadi lebih indah. Yaitu… melakukan hal konyol atau tolol. Semakin banyak kita melakukan hal tolol, maka hidup kita akan semakin indah. Kalau kalian bingung itu teori dari mana, itu teori dari gue. Teori macam apa…

Tapi, kalau kita hanya melakukan hal konyol dengan mengabaikan cinta, itu juga salah. Hidup lo enggak akan seimbang pada akhirnya. Nah, karena gue selalu gagal dalam urusan cinta, maka presentasi melakukan hal konyol gue tingkatkan demi keseimbangan hidup gue. Miris. Iya, miris. Maka dari itu, bagi kalian yang tergolong dalam kategori jomblo, gue sarankan melakukan banyak hal konyol agar kegagalan cinta kalian tertutupi. Huhuahaha.

Kekonyolan apa saja yang dapat dilakukan? Kali ini, gue akan menceritakan hal konyol yang pernah gue lakukan. Tanpa gue sadari tentunya. Maksud lo pingsan sambil melakukan hal konyol, gitu? Bukan. Jadi maksudnya adalah melakukan hal konyol yang enggak gue rencanakan. Dalam artian enggak sengaja. Gitu.

Jatuh dari motor. Setelah merasakan itu, ternyata gue tersadar bahwa jatuh itu bukan ke dalam hati seseorang aja, ya. Tapi ke aspal juga bisa. Bisa, sih, dijadikan bahan bagi kalian yang susah jatuh cinta. Latihan dulu jatuh di aspal gitu. Bonyok, dong? Iya. Resiko.

Saat itu, gue mau pergi les bareng teman gue. Namanya Devi. Cuma dia bawa motor, gue juga. Kondisi jalan gelap dan licin karena sudah malam dan sedang rintik hujan. Karena terburu-buru, gue ngebut. Gue susul sana, susul sini, dan akhirnya…jatuh. Ke bawah? Lah iya masa ke atas. Pas jatuh, sakitnya emang enggak seberapa. Cuma malunya itu… Mana pas gue jatuh, itu kondisi lagi macet banget. Seketika gue mendengar paduan suara antara klakson mobil dan motor. Parah abis kan gue jatuh malah diiringi instrumental klakson. Emang kampret. Akhirnya, gue memutuskan untuk segera kabur dari kemacetan sebelum gue ditimpuk pake kelapa bakar. Kebetulan gue jatuh dipinggir tukang kepala bakar. Untung bukan kepala gue yang dibakar sama si mas-mas-nya.

Bagaimana dengan kabar teman gue yaitu Devi? Ya benar, dia meninggalkan gue. Meninggalkan gue sendiri di tengah keramaian kota. Antapani emang tengah kota ya? Bukan sih. Hehe. Yang pasti dia meninggalkan gue. Pas gue sampai di tempat les, gue ditanya sama Devi,
Devi   : Bagi dong, Ham!
Gue bingung, dengan kondisi gue yang baru sampai dia tiba-tiba nanya gitu.  Gue Tanya balik,
Gue    : Hah? Bagi apaan?
Devi   : Lah, bukannya lo abis jajan kan makanya lama nyampe juga?
Gue, dengan segenap kekesalan menggebu-gebu ingin bilang kayak gini,
Gue    : SIAPA YANG JAJAN, BEGO?!
Cuma, karena gue termasuk orang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung dan semua itu bohong. Lah?-_- Gue cuma pasang muka imut terus ngomong,
Gue    : Engga jajan kok engga.
Kayak homo enggak sih? Kayaknya iya deh.

œ  

Terlepas dari jatuh. Gue juga pernah melakukan hal konyol lain.

Saat itu, gue mau pergi ke sekolah. Seperti biasa, gue berangkat menggunakan motor gue. Sekedar info, motor gue ini termasuk agen rahasia yang dimiliki oleh Indonesia, sehingga dia mempunyai kode tersendiri untuk jenis motor seperti dia. Kode untuk dia adalah J-Z. Jadi, kalau misalkan gue membutuhkan dia, gue tinggal sebut aja kode dia sebanyak 3 kali. Nanti juga dia datang sendiri. Imajinasi.

Gue berangkat. Gue mengecek keaadan motor gue terlebih dahulu barangkali ada yang kurang. Gue cek. Ban motor gue masih ada dua, mereka belum beranak menjadi tiga. Gue lihat giginya masih ada 4, walaupun kata dokter mereka kekurangan kalsium karena jarang mengonsumsi susu. Dokter bilang, ‘Ya, gigi motor kamu keropos. Jarang dikasih susu, ya?’ Gue diem. ‘Tapi dok, dia alergi susu. Setiap saya kasih susu, giginya langsung lepas semua.’ , gue berkonsultasi dengan Dokter.

Gue kembali mengecek. Ternyata, ada satu bagian yang gue anggap dia lagi sakit. Gue melihat jarum penanda bensin, dia berdiam diri di huruf ‘E’. Gue mikir sambil ngedumel dalam hati, ‘Wah, ini ada yang salah ini!’ Gue berpikir ulang, ‘Oh, ini, sih abis bensin, bego.’ Akhirnya gue pun pergi ke SPBU terdekat untuk melaksanakan ritual tersebut. Ritual mengisi bensin.

Gue menghampiri tempat pengisisan. Mba yang jaga tanya, ‘Berapa, Mas?’. Gue jawab, ‘Yang 10 ribu aja , Mba. XL ya, nomornya 087825180xxx’. Mba yang jaga kebingungan. Gue lihat dia sudah mulai menunjukkan tingkah laku ingin muntah. ‘Mas, ini SPBU, bukan counter pulsa.’, jawab Mba yang jaga. Gue kaget. Gue jawab, ‘Oh, yaudah isi bensin 10 ribu ya, Mba. Hehe.’, balas gue.

Sementara Mba yang jaga sedang mengisi bensin motor gue, gue merogoh saku untuk mengambil dompet. Gue cari, ternyata enggak ada. Gue coba mengecek di dalam tas, enggak ada juga. Gue coba ingat-ingat lagi… eh gue ingat! Ternyata, ketinggalan di rumah. Nais sekaleeh. Gue mulai bingung. Keringat mulai bercucuran, badan mulai panas, dan bibir sudah sulit untuk mengucap. Sumpah, gue bingung.

Mba yang jaga membuyarkan lamunan gue. Dia bilang, ‘Udah, Mas.’. Oke, gue bingung (lagi). Akhirnya gue memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya, ‘Hmm, Mba. Gini, dompet saya ketinggalan di rumah. Boleh pulang dulu? Nanti saya ke sini lagi, kok. He-he’. Gue mengatakan itu dengan mimik wajah yang absurd banget. Mba yang jaga cuma diem. Dia mengangguk-angguk. Gue mulai meninggalkan tempat biadab itu. Yang biadab elu kali.

Akhrinya gue pergi ke rumah untuk mengambil -dompet yang tertinggal- itu. Kemudian gue kembali ke tempat biadab tadi. Sempat gue berpikir untuk kabur (baca: tidak membayar uang 10 ribu tadi). Tapi, karena gue baik hati, akhirnya gue pun dengan mantap… kabur. Eh enggak, kembali ke tempat biadab itu maksudnya.

Gue mencari Mba yang jaga tadi. Akhirnya nemu. Gue menghampiri. Mba yang jaga sedikit kebingungan, seperti menemukan sosok tuyul yang beli bensin tapi enggak bayar. Gue pun dengan sikap malu-malu babi bersuara, ‘Mba, ini uang 10 ribu saya kasih cuma-Cuma untukmu.’. Mba yang jaga ngangkat alis sambil bibir mulai mengangkang, eh mengangkat, ‘Cuma-cuma?’. Gue bales sambil nyengir, ‘Eh, maksud saya uang yang tadi, Mba. Yang dompet ketinggalan. He-he.’. Tanpa menunggu balasan dari Mba yang jaga, gue langsung tancap gas untuk meninggalkan tempat biadab itu -lagi-.

œ  

Entah kenapa, hal konyol selalu menimpa gue. Ya, menimpa  gue. Sekali lagi, menimpa gue.

Waktu itu,  gue pergi nonton sama teman-teman gue. Gue nonton Oblivion. Itu, lho film yang pemerannya diperankan oleh saudara kembar gue, Tom Krus. Menurut gue, filmnya mengasah otak dan mengajak penonton untuk berpikir. Jadi ketika saudara kembar gue memerankan perannya, hal pertama yang akan dipikirkan oleh penonton adalah: Bengong. Setelah itu berpikir cukup lama, lalu mengerti jalan cerita. Itu, sih, namanya telat mikir.

Gue melihat ke sekeliling, ternyata memang banyak yang tidak mengerti jalan ceritanya. Dari mana gue tau? Dari tingkah penonton lain. Gue pura-pura membenarkan posisi gue, padahal mengintip gerak-gerik penonton lain. Ada sepasang kekasih, yang ceweknya tidur, yang cowoknya lagi ngipasin sang kekasih. Padahal di Bioskop udah dingan, ya. Ada juga sebelah gue main handphone sambil kaki naik kayak di Warteg. Ada juga yang memerhatikan orang lain. Itu kan elu, Ham. Oh iya.

Setalah selesai menonton, ada satu hal yang sering orang-orang lakukan. Hal itu adalah… kencing. Gue perhatikan seperti itu, teman-teman gue juga sama. Kecuali gue, karena gue menggunakan popok. Ya, gue nurut apa kata Nyokap gue. Tapi, ini popok bukan sembarang popok. Popok ini berbeda dengan yang lain. Popok ini kalau digunakan, enggak ada seorang pun yang tau kalau dia sedang diguna-guna, eh digunakan. Perasaan popok yang lain juga gitu, deh.

Akhirna, gue dan beberapa teman menunggu teman yang lain yang sedang melakukan ritual setelah menonton di Bioskop. Kencing.

Saat menunggu, entah kenapa kami membincangkan mengenai Superman. Dan hal ini membuat gue ngakak. Bayangkan aja, pas lo lagi membincangkan sesuatu, tiba-tiba apa yang lo bincangkan itu datang. Jadi, ceritanya kayak déjà vu gitu. Pas gue sedang membincangkan Superman, tiba-tiba ada anak kecil lari-lari di mall menggunakan pakaian dinas sang Superman. Gila. Gue ngakak abis-abisan. Setelah ngakak, gue dan teman gue membayangkan hadir pahlawan-pahlawan lain. Dan sekali lagi, apa yang gue bayangkan… langsung hadir di hadapan gue. Maka hadirlah sang Batman lari-lari ngejar Superman. Mana abis kejar-kejaran, mereka berdua beli popcorn. Kapan lagi coba Superhero jajan. Gila. Gue dan teman gue langsung guling-guling. Sekalian balapan, dan ternyata gue yang menang. Huray!

Gue dan sebagian teman gue mencari makan di daerah Cikutra. Di sinilah kebodohan dan kekonyolan terjadi.

Karena kami makan di restoran khas Jepang, itu artinya kami makan menggunakan sumpit. Pas lagi makan, teman gue, namanya Wulan, tiba-tiba bersuara, ‘Eh bentar deh, ini kayaknya sumpit aku kebalik, deh, soalnya yang gede dibawah.’. Gue, mendengar hal itu, langsung ngakak enggak karuan. Gue bales, ‘Ul, enggak bisa makan pake sumpit, ya? Kampung banget sih…’, gue ketawa. Jahat? Emang. Hahaha.

Setelah hal konyol itu terjadi, tiba-tiba ada yang bersuara lagi. Tidak lain dan tidak bukan adalah Wulan, ‘Eh, Ham! Hahaha.’, wulan tiba-tiba ketawa ngakak. Oke, gue mulai takut. Takut terjadi apa-apa dengan Wulan. Tapi, kenyataan berkehendak lain, ternyata yang terjadi apa-apa adalah gue. Wulan bersuara lagi, ‘Itu! Itu, Ham! Itu sumpitmu kebalik juga, Bego! Huahaha.’, dia tertawa histeris. Emang ada, ya, tertawa histeris? Gue pikir nangis doing yang histeris.

Gue lihat ke arah mangkuk gue.
Gue mulai panik.
Muka gue memerah, kayak tomat matang.
Gue cuma nyengir.

Mereka semua pun tertawa di balik keterpurukan gue. Tragis.

Dari sini, gue mulai menyadari bahwa pepatah itu benar. Ketika 1 hal konyol terjadi, akan tumbuh 1000 hal konyol lainnya.







Di balik kata 'Nais'

0 komentar

            Libur telah tiba.
            Bahagia enggak, sih? Kalau gue sih iya. Tapi, kalau menurut kaka senior gue yang sedang Ujian Nasioal, sih, kayaknya enggak. Sabar ya, berjuanglah demi bangsa dan Negara, kaka-kaka! Merdeka!

            Sementara kaka senior sedang ujian, itu artinya kami (adik kelas) sedang berlibur. Tapi, buat gue, libur atau enggak libur sama aja. Pasti enggak ada di rumah. Ya ngurus organisasi, ya ngurus kelas, ya ngurus bla bla bla. Tapi, ada satu hal penting, yaitu…enggak belajar! Yeay! Buat gue, enggak masalah keluar rumah seharian asalkan enggak belajar. Sekali-kali butuh refreshing, dong.

            Jauh hari sebelum libur, teman gue namanya Dismi ngajak, ‘Pas libur UN, main yuk! Bareng anak-anak kelas.’
            Gue diem. Tumben banget ini ketua murid ngajak main satu kelas.
            Gue sebagai wakil ketua murid yang mematuhi ajakan atasan, tentu akan mengikuti, ‘Ayo! Kemana?’ jawab gue.
            Dismi kelihatan mikir, selang beberapa detik kemudian dia jawab, ‘Hmm, gatau.’
            Gue diem lagi. Dalem hati gue bilang, ‘Kampret!’.
            Setelah berdiskusi dengan teman-teman yang lain, akhirnya diputuskan bahwa kami pergi belibur ke Rancaupas, Ciwidey. Cihuy!

            Besok gue berangkat. Tapi, gue baru inget kalau gue belum bilang soal ini ke Nyokap dan Bokap gue. Bilang. Enggak. Bilang. Enggak. Gue rada males juga sebenernya bilang, soalnya pasti ditanya ini lah, ditanya itu lah. Ribet. Paling-paling pas gue bilang, Nyokap bilang gini, ‘Hah? Sama siapa? Di mana? Pulang jam berapa? Jangan lupa bawa popok!’ Pertanyaannya emang enggak terlalu ngeselin, sih, cuma yang disuruh bawanya itu loh… Tapi, karena gue merupakan anak yang baik serta nurut perkataan orang tua, akhirnya gue pun…kabur. Hah? Ya kagak, lah! Gue bilang ke Nyokap gue tentang ini.

            Gue bareng teman  yang lain berangkat dari Bandung. Naik bus milik saudaranya Dismi biar di-korting. Pinter. Yang ikut acara ini, memang tidak semua. Tapi, cukup memenuhi target awal gue dan yang lainnya. Saat di perjalanan, itu adalah hal yang ditunggu. Lo tau kenapa? Bukan, bukan karena macet. Karena di situ, lah terjadi proses pendekatan yang sangat baik. Ceilah. Tapi benar. Biasanya, kita akan semakin akrab ketika berada di perjalanan. Merasakan capeknya macet bersama, merasakan lamanya bersama, dan merasakan bau kentut yang dipadukan secara bersama pula. Hihihi.

            Pas nyampe di sana, kita langsung istirahat dan melaksanakan outbound bareng. Ceritanya biar makin kompak satu sama lain. Ceritanya, ya. Yang gue lihat, memang asalnya cerita, tapi menjadi fakta. Karena gue di sana jadi panitia, otomatis gue enggak ikut main. Gue lebih sering mendokumentasikan mereka yang sedang bermain.

            Jelas banget gue lihat kekompakan.
            Satu kata yang dapat gue keluarkan dari pita suara gue, ‘Nais’. Nais adalah kata resapan dari bahasa inggris yang kini terdapat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Ilham). Asalnya, sih, Nice. Tapi karena kurang keren, gue mengubah kata tersebut menjadi ‘Nais’. Arti dari kedua kata tersebut memang sama, yang membedakan adalah cara mengucapkannya. Kalau nice, itu diucapkannya pendek. Kalau nais, diucapkan secara jelas perpindahan antara huruf ‘a’ dengan huruf ‘i’, dan huruf ‘s’ diucapkan dengan bibir yang cukup eksotis. Baru bisa dibilang eksotis ketika bibir lo enggak beda jauh dengan bibir kuda. Kayak lagi belajar bahasa, yak.

            Seperti yang tadi gue bilang, saat perjalanan adalah saat di mana kita semakin akrab dan dekat. Apalagi saat perjalanan pulang. Gue enggak ngerti sebenarnya kenapa bisa pada ‘liar’ gini di bus. Gimana enggak, kalau di Bandung ada suatu event tahunan yang bernama Bandung Berisik. Kami punya event juga yang mengalahkan event tersebut. Namanya adalah…bus berisik. Ya, bus berisik. Sekali lagi, bus berisik.

            Banyak yang menjadi korban dalam event yang kami laksanakan dalam bus ini. Salah satunya adalah temen gue, namanya Siti. Lebih dikenal dengan panggilan Hawa. Korban? Ya, korban. Korban bullying dari penyelenggara event bus berisik. Hihihi. Tapi, bukan cuma Hawa yang jadi korban, ada satu lagi korban yang tidak lain dan tidak bukan merupakan bapak Negara di sekolah gue. Namanya Devi. Kenapa bisa mereka berdua yang jadi korban? Karena… mereka yang akan kami comblangkan. Sepanjang jalan kami menyanyikan lagu yang memang penyanyinya tidak begitu disukai oleh kami. Tapi, entah kenapa bisa pas dengan keadaan mereka berdua. Kurang lebih liriknya seperti ini,

Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa
Tapi mengapa aku selalu tak bisa
Bagaimana caranya agar dirimu
Bisa tahu kalau aku suka
Suka suka suka sama kamu

Sebenarnya, ada lirik yang kami ganti dengan nama Devi dan Hawa. Ya tau sendiri bagian mana yang diganti. Hahaha.

            Selain korban dari event dadakan yang telah kami laksanakan, banyak juga hal-hal baru yang belum pernah gue tau sebelumnya. Hal baru ini gue dapatkan dari three idiots yaitu, Acong, Bule, dan Rai. Ada 2 kata yang baru gue tau dan kata tersebut membuat gue ngakak lama banget di bus. Bus-nya aja nyampe ikutan ngakak.
            Gue sebut jangan ya? Memang sih 2 kata ini rada porno. Tapi, enggak apa-apa kali ya, kan Cuma bercanda. Hahaha. Dua kata tersebut adalah ‘Nyonyo’ dan ‘Haopao’. Gue enggak akan umbar di sini artinya apa. Jadi bagi kalian yang tidak tau artinya apa, bisa cari tau sendiri. Nah, bagi kalian yang sudah tau artinya… selamat! Eh, jangan diumbar-umbar lagi! Why? Bahaya. Hehe.
           
            Yang membuat gue ngakak enggak karuan adalah bibir Rai saat menyebutkan 2 kata tersebut. Rai mulai memonyongkan bibirnya. Mulai bersuara, ‘Nyonyo. Butuh energi nyonyo.’
            Sumpah gue ngakak banget dengernya. Gue masih penasaran, ‘Coba, Rai, ulang.’
            Dia ketawa sebentar, lalu dilanjutkan dengan memonyongkan bibirnya kembali. Suara pun keluar, ‘Nyonyo. Butuh energi nyonyo.’
            Dengan tekstur bibir seperti itu, dengan kemonyongan yang menurut gue pas, dan dengan nada yang keluar dari pita suara yang membuat gue enggak bisa menahan badan gue untuk guling-guling. Yang ingin gue katakan untuk dia, ‘Rai, lo pantes dicipok lumba-lumba’. -_- Hubungannya apa.

            Sesuai dengan pepatah, di mana ada ke-ngakak-an, akan ada pula kesedihan. Bentar, deh. Itu pepatah dari mana? Enggak penting itu pepatah dari mana. Tapi itulah yang gue rasakan ditengah keramaian yang baru saja gue rasakan.

            Gue melihat pelangi mengiri kami pulang.
            Ironi sebenarnya. Di saat hujan turun, yang seharusnya orang-orang mengingat masa kenangan dalam memori, tapi gue malah bersenang-senang. Tapi, disaat pelangi datang setelah hujan usai, yang seharusnya orang-orang merasakan damai, tapi gue malah merasakan hadirnya kenangan dalam memori gue. Di saat itu gue merenung, gue berada dalam keramaian, tetapi tidak ikut andil dalam keramaian tersebut.

            Sejenak gue berpikir, bahwa kita akan merasakan keramaian jika jiwa kita ikut dalam keramaian itu. Tapi, seberapa ramai keaadaan di sekitar kita, jika jiwa kita tidak ikut dalam keramaian tersebut, tentu kita akan merasa sendiri. Dalam sunyi. But, no problem. Life as a wheel, right?

            Mulai saat itu lah gue dipanggil si nais dari Rancaupas. Hampir menyaingi si buta dari Gua Hantu, kan? Hahaha.

            See you!
 
Copyright © Ilham Septiandi | Go Follow ilhxmseptixndi | WBDZGN willykiwil