Bagi kalian
yang menganggap hidup itu indah karena cinta, itu benar. Tapi gue kurang
setuju. Karena ada hal yang membuat hidup menjadi lebih indah. Yaitu… melakukan
hal konyol atau tolol. Semakin banyak kita melakukan hal tolol, maka hidup kita
akan semakin indah. Kalau kalian bingung itu teori dari mana, itu teori dari
gue. Teori macam apa…
Tapi, kalau
kita hanya melakukan hal konyol dengan mengabaikan cinta, itu juga salah. Hidup
lo enggak akan seimbang pada akhirnya. Nah, karena gue selalu gagal dalam
urusan cinta, maka presentasi melakukan hal konyol gue tingkatkan demi
keseimbangan hidup gue. Miris. Iya,
miris. Maka dari itu, bagi kalian yang tergolong dalam kategori jomblo, gue
sarankan melakukan banyak hal konyol agar kegagalan cinta kalian tertutupi. Huhuahaha.
Kekonyolan
apa saja yang dapat dilakukan? Kali ini, gue akan menceritakan hal konyol yang
pernah gue lakukan. Tanpa gue sadari tentunya. Maksud lo pingsan sambil melakukan hal konyol, gitu? Bukan. Jadi
maksudnya adalah melakukan hal konyol yang enggak gue rencanakan. Dalam artian
enggak sengaja. Gitu.
Jatuh dari
motor. Setelah merasakan itu, ternyata gue tersadar bahwa jatuh itu bukan ke
dalam hati seseorang aja, ya. Tapi ke aspal juga bisa. Bisa, sih, dijadikan bahan
bagi kalian yang susah jatuh cinta. Latihan dulu jatuh di aspal gitu. Bonyok, dong? Iya. Resiko.
Saat itu,
gue mau pergi les bareng teman gue. Namanya Devi. Cuma dia bawa motor, gue
juga. Kondisi jalan gelap dan licin karena sudah malam dan sedang rintik hujan.
Karena terburu-buru, gue ngebut. Gue susul sana, susul sini, dan
akhirnya…jatuh. Ke bawah? Lah iya
masa ke atas. Pas jatuh, sakitnya emang enggak seberapa. Cuma malunya itu… Mana
pas gue jatuh, itu kondisi lagi macet banget. Seketika gue mendengar paduan
suara antara klakson mobil dan motor. Parah abis kan gue jatuh malah diiringi
instrumental klakson. Emang kampret. Akhirnya, gue memutuskan untuk segera
kabur dari kemacetan sebelum gue ditimpuk pake kelapa bakar. Kebetulan gue
jatuh dipinggir tukang kepala bakar. Untung bukan kepala gue yang dibakar sama
si mas-mas-nya.
Bagaimana
dengan kabar teman gue yaitu Devi? Ya benar, dia meninggalkan gue. Meninggalkan
gue sendiri di tengah keramaian kota. Antapani
emang tengah kota ya? Bukan sih. Hehe. Yang pasti dia meninggalkan gue. Pas
gue sampai di tempat les, gue ditanya sama Devi,
Devi : Bagi dong, Ham!
Gue
bingung, dengan kondisi gue yang baru sampai dia tiba-tiba nanya gitu. Gue Tanya balik,
Gue : Hah? Bagi apaan?
Devi : Lah, bukannya lo abis jajan kan makanya
lama nyampe juga?
Gue, dengan
segenap kekesalan menggebu-gebu ingin bilang kayak gini,
Gue : SIAPA YANG JAJAN, BEGO?!
Cuma,
karena gue termasuk orang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung
dan semua itu bohong. Lah?-_- Gue
cuma pasang muka imut terus ngomong,
Gue : Engga jajan kok engga.
Kayak homo
enggak sih? Kayaknya iya deh.
Terlepas
dari jatuh. Gue juga pernah melakukan hal konyol lain.
Saat itu,
gue mau pergi ke sekolah. Seperti biasa, gue berangkat menggunakan motor gue.
Sekedar info, motor gue ini termasuk agen rahasia yang dimiliki oleh Indonesia,
sehingga dia mempunyai kode tersendiri untuk jenis motor seperti dia. Kode
untuk dia adalah J-Z. Jadi, kalau misalkan gue membutuhkan dia, gue tinggal
sebut aja kode dia sebanyak 3 kali. Nanti juga dia datang sendiri. Imajinasi.
Gue
berangkat. Gue mengecek keaadan motor gue terlebih dahulu barangkali ada yang
kurang. Gue cek. Ban motor gue masih ada dua, mereka belum beranak menjadi
tiga. Gue lihat giginya masih ada 4, walaupun kata dokter mereka kekurangan
kalsium karena jarang mengonsumsi susu. Dokter bilang, ‘Ya, gigi motor kamu
keropos. Jarang dikasih susu, ya?’ Gue diem. ‘Tapi dok, dia alergi susu. Setiap
saya kasih susu, giginya langsung lepas semua.’ , gue berkonsultasi dengan
Dokter.
Gue kembali
mengecek. Ternyata, ada satu bagian yang gue anggap dia lagi sakit. Gue melihat
jarum penanda bensin, dia berdiam diri di huruf ‘E’. Gue mikir sambil ngedumel
dalam hati, ‘Wah, ini ada yang salah ini!’ Gue berpikir ulang, ‘Oh, ini, sih
abis bensin, bego.’ Akhirnya gue pun pergi ke SPBU terdekat untuk melaksanakan
ritual tersebut. Ritual mengisi bensin.
Gue
menghampiri tempat pengisisan. Mba yang jaga tanya, ‘Berapa, Mas?’. Gue jawab,
‘Yang 10 ribu aja , Mba. XL ya, nomornya 087825180xxx’. Mba yang jaga
kebingungan. Gue lihat dia sudah mulai menunjukkan tingkah laku ingin muntah.
‘Mas, ini SPBU, bukan counter
pulsa.’, jawab Mba yang jaga. Gue kaget. Gue jawab, ‘Oh, yaudah isi bensin 10
ribu ya, Mba. Hehe.’, balas gue.
Sementara
Mba yang jaga sedang mengisi bensin motor gue, gue merogoh saku untuk mengambil
dompet. Gue cari, ternyata enggak ada. Gue coba mengecek di dalam tas, enggak
ada juga. Gue coba ingat-ingat lagi… eh gue ingat! Ternyata, ketinggalan di
rumah. Nais sekaleeh. Gue mulai
bingung. Keringat mulai bercucuran, badan mulai panas, dan bibir sudah sulit
untuk mengucap. Sumpah, gue bingung.
Mba yang
jaga membuyarkan lamunan gue. Dia bilang, ‘Udah, Mas.’. Oke, gue bingung
(lagi). Akhirnya gue memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya, ‘Hmm,
Mba. Gini, dompet saya ketinggalan di rumah. Boleh pulang dulu? Nanti saya ke
sini lagi, kok. He-he’. Gue mengatakan itu dengan mimik wajah yang absurd banget. Mba yang jaga cuma diem.
Dia mengangguk-angguk. Gue mulai meninggalkan tempat biadab itu. Yang biadab elu kali.
Akhrinya
gue pergi ke rumah untuk mengambil -dompet yang tertinggal- itu. Kemudian gue
kembali ke tempat biadab tadi. Sempat gue berpikir untuk kabur (baca: tidak
membayar uang 10 ribu tadi). Tapi, karena gue baik hati, akhirnya gue pun
dengan mantap… kabur. Eh enggak, kembali ke tempat biadab itu maksudnya.
Gue mencari
Mba yang jaga tadi. Akhirnya nemu. Gue menghampiri. Mba yang jaga sedikit
kebingungan, seperti menemukan sosok tuyul yang beli bensin tapi enggak bayar.
Gue pun dengan sikap malu-malu babi bersuara, ‘Mba, ini uang 10 ribu saya kasih
cuma-Cuma untukmu.’. Mba yang jaga ngangkat alis sambil bibir mulai mengangkang,
eh mengangkat, ‘Cuma-cuma?’. Gue bales sambil nyengir, ‘Eh, maksud saya uang
yang tadi, Mba. Yang dompet ketinggalan. He-he.’. Tanpa menunggu balasan dari
Mba yang jaga, gue langsung tancap gas untuk meninggalkan tempat biadab itu
-lagi-.
Entah kenapa,
hal konyol selalu menimpa gue. Ya, menimpa
gue. Sekali lagi, menimpa gue.
Waktu
itu, gue pergi nonton sama teman-teman
gue. Gue nonton Oblivion. Itu, lho
film yang pemerannya diperankan oleh saudara kembar gue, Tom Krus. Menurut gue,
filmnya mengasah otak dan mengajak penonton untuk berpikir. Jadi ketika saudara
kembar gue memerankan perannya, hal pertama yang akan dipikirkan oleh penonton
adalah: Bengong. Setelah itu berpikir cukup lama, lalu mengerti jalan cerita. Itu, sih, namanya telat mikir.
Gue melihat
ke sekeliling, ternyata memang banyak yang tidak mengerti jalan ceritanya. Dari
mana gue tau? Dari tingkah penonton lain. Gue pura-pura membenarkan posisi gue,
padahal mengintip gerak-gerik penonton lain. Ada sepasang kekasih, yang
ceweknya tidur, yang cowoknya lagi ngipasin sang kekasih. Padahal di Bioskop udah dingan, ya. Ada juga sebelah gue main handphone sambil kaki naik kayak di
Warteg. Ada juga yang memerhatikan orang lain. Itu kan elu, Ham. Oh iya.
Setalah
selesai menonton, ada satu hal yang sering orang-orang lakukan. Hal itu adalah…
kencing. Gue perhatikan seperti itu, teman-teman gue juga sama. Kecuali gue,
karena gue menggunakan popok. Ya, gue nurut apa kata Nyokap gue. Tapi, ini
popok bukan sembarang popok. Popok ini berbeda dengan yang lain. Popok ini
kalau digunakan, enggak ada seorang pun yang tau kalau dia sedang diguna-guna,
eh digunakan. Perasaan popok yang lain
juga gitu, deh.
Akhirna,
gue dan beberapa teman menunggu teman yang lain yang sedang melakukan ritual
setelah menonton di Bioskop. Kencing.
Saat
menunggu, entah kenapa kami membincangkan mengenai Superman. Dan hal ini membuat gue ngakak. Bayangkan aja, pas lo
lagi membincangkan sesuatu, tiba-tiba apa yang lo bincangkan itu datang. Jadi,
ceritanya kayak déjà vu gitu. Pas gue
sedang membincangkan Superman,
tiba-tiba ada anak kecil lari-lari di mall
menggunakan pakaian dinas sang Superman. Gila.
Gue ngakak abis-abisan. Setelah ngakak, gue dan teman gue membayangkan hadir
pahlawan-pahlawan lain. Dan sekali lagi, apa yang gue bayangkan… langsung hadir
di hadapan gue. Maka hadirlah sang Batman
lari-lari ngejar Superman. Mana abis
kejar-kejaran, mereka berdua beli popcorn.
Kapan lagi coba Superhero jajan.
Gila. Gue dan teman gue langsung guling-guling. Sekalian balapan, dan ternyata
gue yang menang. Huray!
Gue dan
sebagian teman gue mencari makan di daerah Cikutra. Di sinilah kebodohan dan
kekonyolan terjadi.
Karena kami
makan di restoran khas Jepang, itu artinya kami makan menggunakan sumpit. Pas
lagi makan, teman gue, namanya Wulan, tiba-tiba bersuara, ‘Eh bentar deh, ini
kayaknya sumpit aku kebalik, deh, soalnya yang gede dibawah.’. Gue, mendengar
hal itu, langsung ngakak enggak karuan. Gue bales, ‘Ul, enggak bisa makan pake
sumpit, ya? Kampung banget sih…’, gue ketawa. Jahat? Emang. Hahaha.
Setelah hal
konyol itu terjadi, tiba-tiba ada yang bersuara lagi. Tidak lain dan tidak
bukan adalah Wulan, ‘Eh, Ham! Hahaha.’, wulan tiba-tiba ketawa ngakak. Oke, gue
mulai takut. Takut terjadi apa-apa dengan Wulan. Tapi, kenyataan berkehendak
lain, ternyata yang terjadi apa-apa adalah gue. Wulan bersuara lagi, ‘Itu! Itu,
Ham! Itu sumpitmu kebalik juga, Bego! Huahaha.’, dia tertawa histeris. Emang ada, ya, tertawa histeris? Gue pikir
nangis doing yang histeris.
Gue lihat
ke arah mangkuk gue.
Gue mulai
panik.
Muka gue
memerah, kayak tomat matang.
Gue cuma
nyengir.
Mereka
semua pun tertawa di balik keterpurukan gue. Tragis.
Dari sini,
gue mulai menyadari bahwa pepatah itu benar. Ketika 1 hal konyol terjadi, akan
tumbuh 1000 hal konyol lainnya.