Human Vs Laptop

0 komentar
Waduh.. akhirnya posting juga. Maklum sibuk, jadi baru sempat berjumpa dengan laptop keparat. Kenapa gue sebut keparat? Karena memang ini laptop menyusahkan banget. Sering error, booting lama, sampe-sampe gue waktu itu pernah nulis beberapa cerita, eh taunya harus di-install ulang karena error. Emang keparat. Tapi, se-keparat apapun laptop gue, dia sudah membantu banyak hal. Dimulai dari edit video untuk -sensor- juga edit gambar untuk -sensor-. Hahaha. Pokoknya terima kasih banyak, deh! 

Bukan laptop aja sebenarnya yang punya masalah. Manusia juga banyak (banget) yang memiliki masalah. Tapi ada perbedaan antara laptop dan manusia yang memiliki masalah.

Laptop atau komptuer yang mempunyai masalah alias error itu hanya butuh di-install ulang. Setelah itu, bisa digunakan kembali., dalam kondisi perangkat yang masih bagus tentunya. Berbeda dengan manusia, manusia yang mempunyai banyak masalah alias error itu percuma kalau dengan cara di-install ulang. Kenapa percuma? Karena lo pasti enggak bakal tau cara install ulang manusia. Lo cari di Mbah Google juga enggak bakal ketemu. 

Manusia itu memang tempatnya berbuat kesalahan. Gue ingat pernah baca buku yang di dalamnya terdapat tulisan 'Manusia adalah tempat berbuat kesalahan lalu memperbaikinya. Jika manusia tidak membuat kesalahan, lalu untuk apa Tuhan menciptakan kehidupan?'. Setelah gue baca, gue mulai bengong. Mulai memikirkan kerasnya kehidupan. Karena terlalu keras berpikir, gue enggak nyadar mulut gue mengeluarkan cairan-cairan, lalu menetes sedikit-demi sedikit. Hingga pada akhirnya gue melihat kakak gue sudah memakai pelampung berenang di air liur gue dan adik gue minta tolong karena enggak bisa renang. Cukup, ini lebay.

Memang benar, manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Tapi, jika dibandingkan dengan sesama manusia, manusia itu enggak ada yang sempurna. Pasti ada kesalahan yang dilakukan. Gue juga jadi inget lagu karya Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna. Menurut gue, ini lagu liriknya berbeda banget sama kenyataan. Manusia jika dibandingkan dengan manusia lagi enggak ada yang sempurna, semuanya sama. Tapi... gue suka sih sama lagunya. Enak didengar dan liriknya ngena banget! Jadi liriknya enggak sesuai kenyataan atau ngena banget?-_-. 

Selain manusia enggak ada yang sempurna, gue juga percaya kalau manusia itu enggak ada yang sama antara satu sama lain. Baik dalam bentuk fisik maupun mental. Bahkan, anak yang kembar pun terlihat jelas perbedaannya jika diteliti lebih dalam lagi. Terutama kalau anak kembar itu cewek sama cowok. Lo pegang aja dadanya, maka lo akan menemukan perbedaannya. Perbedaannya tentu dalam segi fisik. Persamaannya adalah dari reaksi ketika lo pegang dada mereka. Kalau lo pegang dada yang cowok, maka lo akan digampar karena dikira lo termasuk dalam spesies manusia yang suka sesama jenis. Tapi, kalau lo pegang dada yang cewek, maka lo akan digampar juga karena lo kurang ajar. Nah, itu persamaannya. Lo bakal digampar.

Manusia pasti punya masalah dan manusia enggak bisa di-install ulang. Manusia punya masalah dan manusia itu berbeda-beda. Artinya, setiap manusia pasti punya 'ritual' sendiri dalam menyelesaikan masalah. Dimulai dari cara biasa-biasa aja, sampai dengan cara luar biasa juga banyak. Bahkan ada yang sampai terjun ke atas bukan ke bawah juga ada. Kalau gue teliti lebih dalam lagi, orang yang melakukan 'ritual' seperti ini adalah anak titisan Celana dalam di luar (Baca: Superman). Karena seumur hidup gue, gue enggak pernah liat orang terjun ke atas kecuali si Celana dalam di luar. Mungkin ini lah alasan mengapa dia memakai celana dalam di luar; agar bisa terjun ke atas. Ngaruhnya apa? Gue juga enggak tau. Cukup dia dan celana dalamnya saja yang tau.

Dalam menyelesaikan masalah, gue lebih cenderung untuk diam dan merenung. Tanpa harus bercerita kepada orang lain. Karena gue orangnya enggak gampang percaya sama orang lain. Ada, sih, satu atau dua orang yang gue percaya banget. Tapi, itu juga gue saring dulu mana masalah yang bakal gue minta pendapat dan mana yang enggak. Intinya, beda banget sama teman-teman gue yang lain. Mereka lebih sering bercerita dan lebih sering meminta pendapat. Itu lah yang membuat mereka cepat menyelesaikan masalah.

Gue rada jijik sebenernya kalau liat cewek yang lagi ada masalah lalu mengeluarkan air mata. Menurut gue itu adalah hal yang sia-sia. Karena selain lo stres akibat banyak masalah, lo juga membuang air mata lo secara cuma-cuma. Mending kalau lo jual air mata lo. Lo bisa dapat keuntungan dan akhirnya bisa beli air untuk isi ulang air mata yang telah lo buang. Pokoknya jijik deh.

Kalau cowok beda lagi. Cowok, termasuk gue, rata-rata sulit untuk menangis. Entah karena gengsi atau memang enggak bisa aja buat menangis. Tapi di sini lah bahayanya cowok, karena tidak bisa menangis, mereka membuang penat dengan melakukan hal konyol bahkan hal yang dapat membahayakan mereka. Bahkan ada yang sampai gantung diri pake kolor, ada.

Temen cowok gue banyak yang bilang, kalau lagi bete atau badmood itu enaknya ngebut di jalan naik motor. Katanya, sih, biar fresh lagi karena mood-nya kebawa angin. Katanya, ya, katanya.

Tapi ya namanya juga penasaran., pernah waktu itu beres UKK, gue stress nih ya. Bukan karena enggak bisa mengerjakan soal. Tapi emang gue lagi marahan sama seseorang. Akhirnya, gue mengikuti usulan temen gue; ngebut di jalanan. Tapi karena gue pikir kurang hot kalau ngebut doang, akhirnya gue play musik di handphone gue.

Gue mulai menuju motor.  Gue starter motor gue. Gue bingung. Kok enggak nyala ya. Gue lihat bagian kunci. 'Loh, kok ga ada?!', dalam hati gue ngomong. Gue cek kantong gue. 'Oh, kuncinya belum dimasukkin.', gue nyengir. Oke, gue mulai tancap gas.

Gue bingung mau ambil track ke mana sebetulnya. Tapi gue putuskan untuk ambil track menuju rumah. Huehehe. Gue mulai ngebut. Pada awalnya gue menikmati. Menikmati banget malah. Rasanya tuh kayak naik ke puncak gunung Jaya Wijaya, lalu lompat dan... mati. Enggak lah! Intinya gue nyaman.

Karena gue ngebut sambil mendengarkan musik, konsentrasi gue pecah. Gue berencana untuk membeli lem super supaya konsentrasi gue enggak pecah lagi. Tapi terlambat sudah seperti lagunya Cakra Khan, gue terjatuh karena enggak sadar motor yang tepat berada di depan gue itu berhenti mendadak. Gue terjatuh dan tak bisa bangun lagi seperti lagunya Rumor. Kok jadi melow, ya?-_- Enggak. Gue jatuh, celana gue sobek kegesek jalan. Awalnya gue mengira cuma celana doang yang sobek, pas gue cek di rumah, 'Kampret!'. Ternyata bukan hanya celana gue yang sobek. Lutut indah gue pun mengikuti jejak sang celana; sobek.

Karena gue tipe orang yang selalu belajar dari pengalaman, gue tetap suka ngebut di jalan. Kampret!

Selain ngebut di jalanan, banyak orang yang bilang cara biar enggak stress itu dengan cara tertawa. Ya, faktanya tertawa bisa membuat orang menjadi tidak stress. Tapi, beda cerita kalau lo lagi sendiri tiba-tiba ketawa. Lo bukan menghilangkan stress. Tapi lo kayak yang memberi kode kepada Pegawai Rumah Sakit Jiwa untuk menjemput lo. Hih.

Gue suka baca buku yang di dalamnya banyak cerita lucu kalau gue lagi stress. Karya Bang Raditya Dika salah satunya. Setiap gue baca, gue pasti ngakak guling-guling tak tentu arah. Tapi serius, semua bukunya rame, lucu, dan keren. Gue sangat berharap gue bisa membuat buku seperti Bang Radit. Do'akan gue, Bang! Emang dia baca, ya?-_-

œ  

Orang yang lagi banyak pikiran atau stress itu kebanyakan tidak stabil alias labil. Sekarang berpikir ini, bisa jadi 1 detik kemudian berubah pikiran. Secepat itu kah? Enggak juga sih. Huehehe. Ya, intinya labil. Belum bisa menentukan pilihan yang akan ia ambil. Masih bingung  mana yang menurut dia benar, mana yang menurut dia salah.

Gue juga sama. Gue masih suka bingung dalam menentukan suatu hal. Kalau gue sedang dalam posisi seperti ini, rasanya gue ingin menjadi Laptop. Laptop itu mesin. Mereka tidak pernah tau mana yang salah dan mana yang benar, tetapi mereka tidak pernah labil. Fokus terhadap satu pilihan. Patuh terhadap satu perintah. Tidak peduli hasilnya seperti apa, yang terpenting bagi mereka adalah mereka sudah menjalankan misi; misi dari penggunanya.

Sangat berbeda dengan gue. Gue manusia. Gue 'kalah' dengan sebuah mesin. Gue masih belum bisa menentukan pilihan. Masih belum bisa fokus terhadap tujuan. Tapi, di sini lah sempurnanya manusia. Mereka diberi hati dan pikiran oleh Sang Pencipta. Ya... agar mereka berpikir dan merasakan bahwa seperti ini lah kehidupan yang sebenarnya. Penuh dengan masalah, penuh dengan 'teka-teki', dan penuh dengan pilihan.

Gue jadi ingat dengan salah satu slogan makanan ringan... Life is never flat.


Keluarga Bisu

0 komentar
Entah apa yang harus gue ungkapkan tentang keluarga gue. Rumit, kacau, dan bisa jadi freaky. Pokoknya, gue enggak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Gue cuma bisa mengungkapkan dengan kalimat-kalimat.  Bedanya apa...

Kalau kemarin-kemarin gue menceritakan tentang teman dan kehidupan absurd gue, sekarang giliran gue untuk memaparkan aib tentang keluarga gue.

Sebenarnya bingung bagi gue untuk menceritakan keluarga gue. Karena menceritakan keluarga gue berarti menceritakan masa-masa kelam yang pernah dan akan gue lakukan semasa hidup gue. Kalau lo mampir ke rumah gue, kalian akan melihat banyak foto yang memperlihatkan kami merupakan keluarga yang sangat harmonis, agamis, style-is, dan buncis. Tapi, itu semua bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Semua itu hanya tipu daya dari keluarga gue kepada tamu-tamu yang datang. 

Pernah waktu itu datang tamu. Karena di ruang tamu jelas terpampang foto keluarga gue, tamu itu bilang ke Bokap gue, 'Wah, Pa, keluarga bapak harmonis sekali.'. Bokap gue nyengir tanpa menyadari cabe bekas makan siang masih terjebak sambil meronta-ronta dalam giginya. Gue, mendengar hal ini, bersegara untuk berdoa, 'Segera sadarkan hamba-Mu yang sedang bertamu di sini, ya Tuhan. Semoga diberi keselamatan dari tipu daya papahku.'. 

Faktanya, gue dan keluarga gue jarang banget berkomunikasi. Mungkin ini yang menyebabkan keluarga gue menjadi keluaga yang 'sakit'. Gue mengerti mengapa seperti ini. Hal ini sepertinya disebabkan karena Bokap gue selalu pulang malam dan gue pun termasuk anak yang jarang berada di rumah. Bukan untuk main, tetapi memang gue lebih nyaman berkegiatan di sekolah daripada di rumah.

Gue juga iri sebenarnya dengan teman-teman gue yang mempunyai keluarga 'normal' dengan ukuran 'standar'. Artinya enggak sama dengan keluarga gue. Setiap gue menceritakan tentang keluarga gue, teman gue cuma bilang, 'Loh, kok aneh sih? Kalau keluarga aku, sih....' Bla bla bla, mereka menceritakan semuanya dan berhasil membuat gue iri dengan semuanya.

Karena jarang berbincang, pernah waktu Bokap mau makan malam, gue ikut nimbrung di meja makan. Awalnya biasa. Gue makan, Bokap gue juga makan. Pada pertengahan, Bokap gue menawarkan sesuatu. Anehnya, Bokap gue menawarkan sesuatu tanpa memanggil nama gue. Jadi, dia cuma colek badan gue, lalu gue lihat jari telunjuknya mengarahkan ke suatu tempat. Karena gue penasaran, akhirnya gue berusaha untuk mencari arah telunjuk tersebut. Ternyata, mengarah ke tempat... kerupuk. Oh, gue mengerti. Ternyata Bokap gue ini menawarkan kerupuk.

Yang gue heran adalah cara Bokap gue menawarkan: Tanpa berbicara sedikitpun. Hanya bersuara, 'Hmm!'. Karena seperti di iklan-iklan banyak anak meniru bapaknya dalam melakukan sesuatu, kayak iklan pasta gigi, jadi ada seorang bapak yang pulang olahraga langsung makan tapi dicolek paki jari dan si anak mengikuti. Ini kalau si bapak pas pulang langsung buang air besar di ruang tamu, mungkin si anak akan mengikuti juga. Jadi nanti terlihat seorang bapak dan anak yang sedang kontes buang hajat terlama dan terpanjang. Tugas si ibu untuk mendokumentasikan kegiatan rutin tersebut. Huek!

Akhirnya gue menjawab tawaran bapak gue dengan bersuara, 'Hmm' sambil menggeleng-gelengkan kepala bertanda tidak mau. Kenapa gue enggak ngomong? Ya, karena alasan yang tadi. Banyak di iklan-iklan yang menandakann bahwa anak mengikuti bapaknya. Maka dari itu, gue sukses meniru gaya bapak gue. Huehehe.

Terlepas dari hubungan gue dan Bokap, gue juga punya kakak. Ya, kakak. Kakak yang menurut gue aneh.

Pernah waktu teman-teman gue main ke rumah, saat itu ada kakak gue lewat. Temen gue bilang, 'Ham, kenapa kamu sama kakakmu ga mirip? Padahal kan kamu sama adikmu mirip banget.' Gue diem. Gue berpikir. Dan gue tidak menemukan jawaban. Tapi gue jawab sekena otak gue, 'Hah? Gatau tuh. Hadiah dari snack seribuan kali.'. Setelah gue jawab, suasana berubah. Gue tengok teman-teman gue lagi guling-guling sambil ketawa. Gue lihat juga kotak tertawanya udah pada mau keluar tuh.

Gue juga heran sebetulnya. Banyak orang yang bilang kalau gue dan adik gue mirip banget kayak anak kembar. Padahal beda 2 tahun. Tapi, banyak yang bilang juga kalau gue dan kakak gue itu enggak mirip. Walaupun ada yang bilang juga, cuma mirip idungnya doang. Padahal beda usia gue dengan kakak gue juga cuma 3 tahun. Entahlah, mungkin dugaan gue selama ini memang benar. Kakak gue hadiah dari snack seribuan.

Pada waktu yang sama, kakak gue melakukan hal konyol yang mungkin bisa membuat hancur keluarga gue. Sungguh perlakuan yang tidak terpuji. Jadi, kakak gue ceritanya mau pergi. Entah sama siapa, yang pasti rapih. Mungkin mau maho-an kali ya. Jadi ceritanya kakak gue memanaskan mesin mobil selama beberapa menit lalu masuk kembali untuk mengambil barang. Gue enggak tau cara kakak gue memanaskan mobil seperti apa. Tapi, gue melihat dia membawa korek api. Entah mesinnya dibakar agar panas, entah untuk cemilan kakak gue. Gue enggak peduli. Setelah sudah lumayan panas, dia matiin itu mesin lalu masuk ke rumah, simpan kunci mobil, membawa kunci motor, dan dengan seketika pergi menggunakan motor.

Entah telah terjadi hal bodoh seperti apa di rumah gue. Yang pasti, itu adalah hal terbodoh yang pernah gue lihat. Teman gue tiba-tiba berkicau, 'Ham, kayaknya kakak kamu emang bener hadiah snack deh.'. Dia melanjutkan dengan ketawa. Gue cuma diem dan berdoa, 'Ya Tuhan, jika memang kakak-ku adalah hadiah snack seribuan, maka aku akan meminta ibuku untuk membeli snack seratus ribuan agar mendapat hadiah kakak yang lebih baik.'. Adik durhaka...

Seperti yang pernah gue bilang, keluarga gue memang bukan keluarga yang terlalu harmonis. Kebanyakan diam, membisu, dan layaknya tidak ada kehidupan. Semua hidup masing-masing dan sibuk terhadap pekerjaannya masing-masing.

Gue sebetulnya rindu masa-masa waktu gue kecil dulu. Masa di  mana gue masih suka main bareng kakak gue, main bareng adik gue. Walaupun memang bermain tanpa 'berkomunikasi', setidaknya itu lebih dari cukup dibandingkan dengan sekarang yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Pernah waktu gue kecil, gue main bareng kakak gue di kamar. Entah kenapa saat itu gue jadi marah, mungkin karena kakak gue jahil dan memang sebenarnya sifat kakak gue jahil. Jadi pas lagi main tiba-tiba jadi berantem. Enggak usah gue umbar di sini kali ya berantemnya kayak gimana. Pasti udah tau berantemnya anak kecil seperti apa. Ya, gue megang panah dan kakak gue megang panah. Wah? Ya, kagaklah. Karena kami merupakan pria yang tangguh dan tak terkalahkan, ceilah. Kami berdua berantem dengan tangan kosong.

Gue bersiap-siap melawan musuh sedarah gue ini, dia-pun bersiap-siap. Tanpa komando dari wasit (karena tidak ada), gue memberikan serangan pertama tetapi meleset. Musuh berusaha untuk menyerang kembali, ia mendaratkan kepalan tangannya tepat di tembok. Bodoh sekali. Gue memanfaatkan keadaan ini, gue bersiap  untuk meluncurkan serangan ke dua. Alhasil, mendaratlah tangan gue di wajah kakak gue. Saat tangan gue mendarat, gue melihat ada yang melayang. Karena gue masih polos, gue kira itulah yang dinamakan pesawat. Tapi ternyata bukan. Itu adalah... gigi kakak gue. Pada awalnya gue mengira bahwa gigi bisa berubah warna dari putih menjadi hitam. Tapi ternyata bukan berubah warna, melainkan lepas dari rumahnya.

Masih ada kejadian yang gue lakukan bareng kakak gue. Pas gue baru aja disunat, kebetulan gue dan kakak gue disunatnya bareng. Oh iya, bagi yang belum tau sunat itu apa, gue bakal kasih tau intinya. Jadi sunat itu adalah pra-proses dari pembuatan kerupuk kulit. Jadi, bagi kalian pecinta kerupuk kulit berhati-hati, ya. Siapa tau kerupuk kulit yang lo makan itu dari kulit punya gue dan kakak gue. Huahaha.

Kembali ke kejadian tadi. Jadi, setelah sunat, gue dan kakak gue menjadi lebih sering berdua. Mungkin karena kami merasakan penderitaan yang sama. Alhasil, kami menghabiskan waktu dengan bermain playstation sampai malam hari. Hingga suatu malam, ketika jari-jemari kami sedang sibuk memainkan stik, gue mendengar suara orang yang membuka pagar. Awalnya gue kira itu tetangga yang ingin bertamu, jadi gue diemin aja. Lama sudah tak terdengar ada yang membuka pintu, gue coba untuk mengecek ke luar. Dan ternyata... gue merasakan sesuatu yang ganjil. Hal yang ganjil itu adalah ketika sore hari gue masih melihat sepeda gue terparkir di halaman rumah, dan baru saja gue melihat bahwa sepeda itu telah hilang. 'Kampret! Ternyata tadi bukan suara tetangga, itu suara maling! Bego...'. Gue menggerutu dalam hati.

Akhirnya, dapat gue simpulkan bahwa bermain bersama kakak itu malapetaka.

Terlepas dari hubungan gue dan kakak, gue juga punya adik. Ya, ini lah yang sering diperbincangkan oleh teman-teman gue. Kata mereka gue mirip banget dan malah dikira kembar. Yang lebih parah lagi, adik gue adalah gue saat sedang memakai rambut palsu. Owcitmen.

Kali ini akan gue luruskan.

Adik gue bukanlah gue saat memakai rambut palsu. Melainkan gue saat malam hari. Eh bukan, dia emang adik gue. Dan kami tidak kembari. Itu.

Masih sama, dulu waktu gue masih duduk di bangku sekolah dasar. Gue masih sering main dengan kakak terutama dengan adik gue. Tetapi keaadan menjadi berubah setelah negara api menyerang. Itu Avatar kali...

Jadi, pernah gue main lompat tinggi sama adik gue di halaman rumah. Bagi yang belum tau lompat tinggi seperti apa, itu ada sejenis permainan melewati tali yang terbuat dari kulit hasil sunat. Eh bukan, dari sambungan beberapa karet gelang. Nah, jadi permainannya dimulai dari yang pendek terlebih dahulu lalu jika sudah bisa melewati, saatnya naik level ke level yang lebih tinggi. Artinya talinya-pun lebih tinggi. Nah, saat talinya sudah setinggi leher gue. Gue mencoba untuk melewati tanpa menyentuh talinya. Tapi entah mengapa padahal tak ada angin juga tak ada badai, gue berhasil melewati tali tersebut. Dengan mendarat tanpa kaki. Hebat kan? Iya hebat. Gue mendarat dengan kepala gue. Karena jika ada aksi maka akan ada reaksi, maka aksi mendarat dengan kepala menimbulkan reaksi. Reaksinya adalah benjolan yang sangat mengganggu. Dan itu tidak nais sama sekali.

Bagi yang tidak tau 'nais', bisa baca di posting-an gue sebelumnya: Di balik kata nais.

Sekali lagi, dapat gue simpulkan bahwa bermain bersama adik itu malapetaka. Jadi, intinya adalah bermain bersama kakak dan adik itu adalah malapetaka. Waw...

Intinya adalah gue menamakan keluarga gue dengan sebutan 'Keluarga Bisu'. Mengapa? Karena memang jarang banget yang namanya berkomunikasi. Gue aja, pergi pagi dan pulang pasti malam hari. Paling cepat pulang sekitar maghrib. Kalau banyak orang yang bilang rumah adalah tempat tinggal pertama dan sekolah adalah tempat tinggal kedua. Untuk gue, itu semua salah. Untuk gue, itu semua terbalik. Sekolah adalah tempat tinggal pertama dan rumah adalah tempat tinggal kedua. Karena gue memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dibandingkan di rumah. Di rumah, gue cuma numpang makan, mandi, dan tidur. Sisanya gue kerjakan di sekolah.

Gue jadi khawatir dengan masa depan keluarga gue nanti akan seperti apa. Enggak bisa dibayangkan sama sekali. Suram. Jadi misalkan pas gue dan kakak gue udah pisah, dan kebetulan kakak gue ulang tahun. Gue nelpon, 'Kak, selamat ulang tahun, ya!'. Gue tutup telepon. Kan enggak lucu. Tapi, selama masih ada waktu, gue berusaha untuk merubah itu semua. Huwoo!

Temen gue, Nidia juga pernah bilang, 'Iya, enggak berkomunikasi bukan berarti benci, kan?'. Gue menganggukkan kepala antara setuju dan tidak. Masalahnya gue kadang benci kadang enggak. Huahaha. Bercanda deng. Gue jawab dengan mantap, 'Bukan!'.

Inti untuk kali kesekian adalah keluarga gue mengalami masa di mana menjadi 'Keluarga Bisu' untuk sementara, dan semoga pada akhirnya akan ada 'obat' yang membuat keluarga gue menjadi tidak 'bisu' kembali. Aamiin.

Kehidupan Absurd

0 komentar

Bagi kalian yang menganggap hidup itu indah karena cinta, itu benar. Tapi gue kurang setuju. Karena ada hal yang membuat hidup menjadi lebih indah. Yaitu… melakukan hal konyol atau tolol. Semakin banyak kita melakukan hal tolol, maka hidup kita akan semakin indah. Kalau kalian bingung itu teori dari mana, itu teori dari gue. Teori macam apa…

Tapi, kalau kita hanya melakukan hal konyol dengan mengabaikan cinta, itu juga salah. Hidup lo enggak akan seimbang pada akhirnya. Nah, karena gue selalu gagal dalam urusan cinta, maka presentasi melakukan hal konyol gue tingkatkan demi keseimbangan hidup gue. Miris. Iya, miris. Maka dari itu, bagi kalian yang tergolong dalam kategori jomblo, gue sarankan melakukan banyak hal konyol agar kegagalan cinta kalian tertutupi. Huhuahaha.

Kekonyolan apa saja yang dapat dilakukan? Kali ini, gue akan menceritakan hal konyol yang pernah gue lakukan. Tanpa gue sadari tentunya. Maksud lo pingsan sambil melakukan hal konyol, gitu? Bukan. Jadi maksudnya adalah melakukan hal konyol yang enggak gue rencanakan. Dalam artian enggak sengaja. Gitu.

Jatuh dari motor. Setelah merasakan itu, ternyata gue tersadar bahwa jatuh itu bukan ke dalam hati seseorang aja, ya. Tapi ke aspal juga bisa. Bisa, sih, dijadikan bahan bagi kalian yang susah jatuh cinta. Latihan dulu jatuh di aspal gitu. Bonyok, dong? Iya. Resiko.

Saat itu, gue mau pergi les bareng teman gue. Namanya Devi. Cuma dia bawa motor, gue juga. Kondisi jalan gelap dan licin karena sudah malam dan sedang rintik hujan. Karena terburu-buru, gue ngebut. Gue susul sana, susul sini, dan akhirnya…jatuh. Ke bawah? Lah iya masa ke atas. Pas jatuh, sakitnya emang enggak seberapa. Cuma malunya itu… Mana pas gue jatuh, itu kondisi lagi macet banget. Seketika gue mendengar paduan suara antara klakson mobil dan motor. Parah abis kan gue jatuh malah diiringi instrumental klakson. Emang kampret. Akhirnya, gue memutuskan untuk segera kabur dari kemacetan sebelum gue ditimpuk pake kelapa bakar. Kebetulan gue jatuh dipinggir tukang kepala bakar. Untung bukan kepala gue yang dibakar sama si mas-mas-nya.

Bagaimana dengan kabar teman gue yaitu Devi? Ya benar, dia meninggalkan gue. Meninggalkan gue sendiri di tengah keramaian kota. Antapani emang tengah kota ya? Bukan sih. Hehe. Yang pasti dia meninggalkan gue. Pas gue sampai di tempat les, gue ditanya sama Devi,
Devi   : Bagi dong, Ham!
Gue bingung, dengan kondisi gue yang baru sampai dia tiba-tiba nanya gitu.  Gue Tanya balik,
Gue    : Hah? Bagi apaan?
Devi   : Lah, bukannya lo abis jajan kan makanya lama nyampe juga?
Gue, dengan segenap kekesalan menggebu-gebu ingin bilang kayak gini,
Gue    : SIAPA YANG JAJAN, BEGO?!
Cuma, karena gue termasuk orang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung dan semua itu bohong. Lah?-_- Gue cuma pasang muka imut terus ngomong,
Gue    : Engga jajan kok engga.
Kayak homo enggak sih? Kayaknya iya deh.

œ  

Terlepas dari jatuh. Gue juga pernah melakukan hal konyol lain.

Saat itu, gue mau pergi ke sekolah. Seperti biasa, gue berangkat menggunakan motor gue. Sekedar info, motor gue ini termasuk agen rahasia yang dimiliki oleh Indonesia, sehingga dia mempunyai kode tersendiri untuk jenis motor seperti dia. Kode untuk dia adalah J-Z. Jadi, kalau misalkan gue membutuhkan dia, gue tinggal sebut aja kode dia sebanyak 3 kali. Nanti juga dia datang sendiri. Imajinasi.

Gue berangkat. Gue mengecek keaadan motor gue terlebih dahulu barangkali ada yang kurang. Gue cek. Ban motor gue masih ada dua, mereka belum beranak menjadi tiga. Gue lihat giginya masih ada 4, walaupun kata dokter mereka kekurangan kalsium karena jarang mengonsumsi susu. Dokter bilang, ‘Ya, gigi motor kamu keropos. Jarang dikasih susu, ya?’ Gue diem. ‘Tapi dok, dia alergi susu. Setiap saya kasih susu, giginya langsung lepas semua.’ , gue berkonsultasi dengan Dokter.

Gue kembali mengecek. Ternyata, ada satu bagian yang gue anggap dia lagi sakit. Gue melihat jarum penanda bensin, dia berdiam diri di huruf ‘E’. Gue mikir sambil ngedumel dalam hati, ‘Wah, ini ada yang salah ini!’ Gue berpikir ulang, ‘Oh, ini, sih abis bensin, bego.’ Akhirnya gue pun pergi ke SPBU terdekat untuk melaksanakan ritual tersebut. Ritual mengisi bensin.

Gue menghampiri tempat pengisisan. Mba yang jaga tanya, ‘Berapa, Mas?’. Gue jawab, ‘Yang 10 ribu aja , Mba. XL ya, nomornya 087825180xxx’. Mba yang jaga kebingungan. Gue lihat dia sudah mulai menunjukkan tingkah laku ingin muntah. ‘Mas, ini SPBU, bukan counter pulsa.’, jawab Mba yang jaga. Gue kaget. Gue jawab, ‘Oh, yaudah isi bensin 10 ribu ya, Mba. Hehe.’, balas gue.

Sementara Mba yang jaga sedang mengisi bensin motor gue, gue merogoh saku untuk mengambil dompet. Gue cari, ternyata enggak ada. Gue coba mengecek di dalam tas, enggak ada juga. Gue coba ingat-ingat lagi… eh gue ingat! Ternyata, ketinggalan di rumah. Nais sekaleeh. Gue mulai bingung. Keringat mulai bercucuran, badan mulai panas, dan bibir sudah sulit untuk mengucap. Sumpah, gue bingung.

Mba yang jaga membuyarkan lamunan gue. Dia bilang, ‘Udah, Mas.’. Oke, gue bingung (lagi). Akhirnya gue memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya, ‘Hmm, Mba. Gini, dompet saya ketinggalan di rumah. Boleh pulang dulu? Nanti saya ke sini lagi, kok. He-he’. Gue mengatakan itu dengan mimik wajah yang absurd banget. Mba yang jaga cuma diem. Dia mengangguk-angguk. Gue mulai meninggalkan tempat biadab itu. Yang biadab elu kali.

Akhrinya gue pergi ke rumah untuk mengambil -dompet yang tertinggal- itu. Kemudian gue kembali ke tempat biadab tadi. Sempat gue berpikir untuk kabur (baca: tidak membayar uang 10 ribu tadi). Tapi, karena gue baik hati, akhirnya gue pun dengan mantap… kabur. Eh enggak, kembali ke tempat biadab itu maksudnya.

Gue mencari Mba yang jaga tadi. Akhirnya nemu. Gue menghampiri. Mba yang jaga sedikit kebingungan, seperti menemukan sosok tuyul yang beli bensin tapi enggak bayar. Gue pun dengan sikap malu-malu babi bersuara, ‘Mba, ini uang 10 ribu saya kasih cuma-Cuma untukmu.’. Mba yang jaga ngangkat alis sambil bibir mulai mengangkang, eh mengangkat, ‘Cuma-cuma?’. Gue bales sambil nyengir, ‘Eh, maksud saya uang yang tadi, Mba. Yang dompet ketinggalan. He-he.’. Tanpa menunggu balasan dari Mba yang jaga, gue langsung tancap gas untuk meninggalkan tempat biadab itu -lagi-.

œ  

Entah kenapa, hal konyol selalu menimpa gue. Ya, menimpa  gue. Sekali lagi, menimpa gue.

Waktu itu,  gue pergi nonton sama teman-teman gue. Gue nonton Oblivion. Itu, lho film yang pemerannya diperankan oleh saudara kembar gue, Tom Krus. Menurut gue, filmnya mengasah otak dan mengajak penonton untuk berpikir. Jadi ketika saudara kembar gue memerankan perannya, hal pertama yang akan dipikirkan oleh penonton adalah: Bengong. Setelah itu berpikir cukup lama, lalu mengerti jalan cerita. Itu, sih, namanya telat mikir.

Gue melihat ke sekeliling, ternyata memang banyak yang tidak mengerti jalan ceritanya. Dari mana gue tau? Dari tingkah penonton lain. Gue pura-pura membenarkan posisi gue, padahal mengintip gerak-gerik penonton lain. Ada sepasang kekasih, yang ceweknya tidur, yang cowoknya lagi ngipasin sang kekasih. Padahal di Bioskop udah dingan, ya. Ada juga sebelah gue main handphone sambil kaki naik kayak di Warteg. Ada juga yang memerhatikan orang lain. Itu kan elu, Ham. Oh iya.

Setalah selesai menonton, ada satu hal yang sering orang-orang lakukan. Hal itu adalah… kencing. Gue perhatikan seperti itu, teman-teman gue juga sama. Kecuali gue, karena gue menggunakan popok. Ya, gue nurut apa kata Nyokap gue. Tapi, ini popok bukan sembarang popok. Popok ini berbeda dengan yang lain. Popok ini kalau digunakan, enggak ada seorang pun yang tau kalau dia sedang diguna-guna, eh digunakan. Perasaan popok yang lain juga gitu, deh.

Akhirna, gue dan beberapa teman menunggu teman yang lain yang sedang melakukan ritual setelah menonton di Bioskop. Kencing.

Saat menunggu, entah kenapa kami membincangkan mengenai Superman. Dan hal ini membuat gue ngakak. Bayangkan aja, pas lo lagi membincangkan sesuatu, tiba-tiba apa yang lo bincangkan itu datang. Jadi, ceritanya kayak déjà vu gitu. Pas gue sedang membincangkan Superman, tiba-tiba ada anak kecil lari-lari di mall menggunakan pakaian dinas sang Superman. Gila. Gue ngakak abis-abisan. Setelah ngakak, gue dan teman gue membayangkan hadir pahlawan-pahlawan lain. Dan sekali lagi, apa yang gue bayangkan… langsung hadir di hadapan gue. Maka hadirlah sang Batman lari-lari ngejar Superman. Mana abis kejar-kejaran, mereka berdua beli popcorn. Kapan lagi coba Superhero jajan. Gila. Gue dan teman gue langsung guling-guling. Sekalian balapan, dan ternyata gue yang menang. Huray!

Gue dan sebagian teman gue mencari makan di daerah Cikutra. Di sinilah kebodohan dan kekonyolan terjadi.

Karena kami makan di restoran khas Jepang, itu artinya kami makan menggunakan sumpit. Pas lagi makan, teman gue, namanya Wulan, tiba-tiba bersuara, ‘Eh bentar deh, ini kayaknya sumpit aku kebalik, deh, soalnya yang gede dibawah.’. Gue, mendengar hal itu, langsung ngakak enggak karuan. Gue bales, ‘Ul, enggak bisa makan pake sumpit, ya? Kampung banget sih…’, gue ketawa. Jahat? Emang. Hahaha.

Setelah hal konyol itu terjadi, tiba-tiba ada yang bersuara lagi. Tidak lain dan tidak bukan adalah Wulan, ‘Eh, Ham! Hahaha.’, wulan tiba-tiba ketawa ngakak. Oke, gue mulai takut. Takut terjadi apa-apa dengan Wulan. Tapi, kenyataan berkehendak lain, ternyata yang terjadi apa-apa adalah gue. Wulan bersuara lagi, ‘Itu! Itu, Ham! Itu sumpitmu kebalik juga, Bego! Huahaha.’, dia tertawa histeris. Emang ada, ya, tertawa histeris? Gue pikir nangis doing yang histeris.

Gue lihat ke arah mangkuk gue.
Gue mulai panik.
Muka gue memerah, kayak tomat matang.
Gue cuma nyengir.

Mereka semua pun tertawa di balik keterpurukan gue. Tragis.

Dari sini, gue mulai menyadari bahwa pepatah itu benar. Ketika 1 hal konyol terjadi, akan tumbuh 1000 hal konyol lainnya.







 
Copyright © Ilham Septiandi | Go Follow ilhxmseptixndi | WBDZGN willykiwil