Di balik kata 'Nais'


            Libur telah tiba.
            Bahagia enggak, sih? Kalau gue sih iya. Tapi, kalau menurut kaka senior gue yang sedang Ujian Nasioal, sih, kayaknya enggak. Sabar ya, berjuanglah demi bangsa dan Negara, kaka-kaka! Merdeka!

            Sementara kaka senior sedang ujian, itu artinya kami (adik kelas) sedang berlibur. Tapi, buat gue, libur atau enggak libur sama aja. Pasti enggak ada di rumah. Ya ngurus organisasi, ya ngurus kelas, ya ngurus bla bla bla. Tapi, ada satu hal penting, yaitu…enggak belajar! Yeay! Buat gue, enggak masalah keluar rumah seharian asalkan enggak belajar. Sekali-kali butuh refreshing, dong.

            Jauh hari sebelum libur, teman gue namanya Dismi ngajak, ‘Pas libur UN, main yuk! Bareng anak-anak kelas.’
            Gue diem. Tumben banget ini ketua murid ngajak main satu kelas.
            Gue sebagai wakil ketua murid yang mematuhi ajakan atasan, tentu akan mengikuti, ‘Ayo! Kemana?’ jawab gue.
            Dismi kelihatan mikir, selang beberapa detik kemudian dia jawab, ‘Hmm, gatau.’
            Gue diem lagi. Dalem hati gue bilang, ‘Kampret!’.
            Setelah berdiskusi dengan teman-teman yang lain, akhirnya diputuskan bahwa kami pergi belibur ke Rancaupas, Ciwidey. Cihuy!

            Besok gue berangkat. Tapi, gue baru inget kalau gue belum bilang soal ini ke Nyokap dan Bokap gue. Bilang. Enggak. Bilang. Enggak. Gue rada males juga sebenernya bilang, soalnya pasti ditanya ini lah, ditanya itu lah. Ribet. Paling-paling pas gue bilang, Nyokap bilang gini, ‘Hah? Sama siapa? Di mana? Pulang jam berapa? Jangan lupa bawa popok!’ Pertanyaannya emang enggak terlalu ngeselin, sih, cuma yang disuruh bawanya itu loh… Tapi, karena gue merupakan anak yang baik serta nurut perkataan orang tua, akhirnya gue pun…kabur. Hah? Ya kagak, lah! Gue bilang ke Nyokap gue tentang ini.

            Gue bareng teman  yang lain berangkat dari Bandung. Naik bus milik saudaranya Dismi biar di-korting. Pinter. Yang ikut acara ini, memang tidak semua. Tapi, cukup memenuhi target awal gue dan yang lainnya. Saat di perjalanan, itu adalah hal yang ditunggu. Lo tau kenapa? Bukan, bukan karena macet. Karena di situ, lah terjadi proses pendekatan yang sangat baik. Ceilah. Tapi benar. Biasanya, kita akan semakin akrab ketika berada di perjalanan. Merasakan capeknya macet bersama, merasakan lamanya bersama, dan merasakan bau kentut yang dipadukan secara bersama pula. Hihihi.

            Pas nyampe di sana, kita langsung istirahat dan melaksanakan outbound bareng. Ceritanya biar makin kompak satu sama lain. Ceritanya, ya. Yang gue lihat, memang asalnya cerita, tapi menjadi fakta. Karena gue di sana jadi panitia, otomatis gue enggak ikut main. Gue lebih sering mendokumentasikan mereka yang sedang bermain.

            Jelas banget gue lihat kekompakan.
            Satu kata yang dapat gue keluarkan dari pita suara gue, ‘Nais’. Nais adalah kata resapan dari bahasa inggris yang kini terdapat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Ilham). Asalnya, sih, Nice. Tapi karena kurang keren, gue mengubah kata tersebut menjadi ‘Nais’. Arti dari kedua kata tersebut memang sama, yang membedakan adalah cara mengucapkannya. Kalau nice, itu diucapkannya pendek. Kalau nais, diucapkan secara jelas perpindahan antara huruf ‘a’ dengan huruf ‘i’, dan huruf ‘s’ diucapkan dengan bibir yang cukup eksotis. Baru bisa dibilang eksotis ketika bibir lo enggak beda jauh dengan bibir kuda. Kayak lagi belajar bahasa, yak.

            Seperti yang tadi gue bilang, saat perjalanan adalah saat di mana kita semakin akrab dan dekat. Apalagi saat perjalanan pulang. Gue enggak ngerti sebenarnya kenapa bisa pada ‘liar’ gini di bus. Gimana enggak, kalau di Bandung ada suatu event tahunan yang bernama Bandung Berisik. Kami punya event juga yang mengalahkan event tersebut. Namanya adalah…bus berisik. Ya, bus berisik. Sekali lagi, bus berisik.

            Banyak yang menjadi korban dalam event yang kami laksanakan dalam bus ini. Salah satunya adalah temen gue, namanya Siti. Lebih dikenal dengan panggilan Hawa. Korban? Ya, korban. Korban bullying dari penyelenggara event bus berisik. Hihihi. Tapi, bukan cuma Hawa yang jadi korban, ada satu lagi korban yang tidak lain dan tidak bukan merupakan bapak Negara di sekolah gue. Namanya Devi. Kenapa bisa mereka berdua yang jadi korban? Karena… mereka yang akan kami comblangkan. Sepanjang jalan kami menyanyikan lagu yang memang penyanyinya tidak begitu disukai oleh kami. Tapi, entah kenapa bisa pas dengan keadaan mereka berdua. Kurang lebih liriknya seperti ini,

Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa
Tapi mengapa aku selalu tak bisa
Bagaimana caranya agar dirimu
Bisa tahu kalau aku suka
Suka suka suka sama kamu

Sebenarnya, ada lirik yang kami ganti dengan nama Devi dan Hawa. Ya tau sendiri bagian mana yang diganti. Hahaha.

            Selain korban dari event dadakan yang telah kami laksanakan, banyak juga hal-hal baru yang belum pernah gue tau sebelumnya. Hal baru ini gue dapatkan dari three idiots yaitu, Acong, Bule, dan Rai. Ada 2 kata yang baru gue tau dan kata tersebut membuat gue ngakak lama banget di bus. Bus-nya aja nyampe ikutan ngakak.
            Gue sebut jangan ya? Memang sih 2 kata ini rada porno. Tapi, enggak apa-apa kali ya, kan Cuma bercanda. Hahaha. Dua kata tersebut adalah ‘Nyonyo’ dan ‘Haopao’. Gue enggak akan umbar di sini artinya apa. Jadi bagi kalian yang tidak tau artinya apa, bisa cari tau sendiri. Nah, bagi kalian yang sudah tau artinya… selamat! Eh, jangan diumbar-umbar lagi! Why? Bahaya. Hehe.
           
            Yang membuat gue ngakak enggak karuan adalah bibir Rai saat menyebutkan 2 kata tersebut. Rai mulai memonyongkan bibirnya. Mulai bersuara, ‘Nyonyo. Butuh energi nyonyo.’
            Sumpah gue ngakak banget dengernya. Gue masih penasaran, ‘Coba, Rai, ulang.’
            Dia ketawa sebentar, lalu dilanjutkan dengan memonyongkan bibirnya kembali. Suara pun keluar, ‘Nyonyo. Butuh energi nyonyo.’
            Dengan tekstur bibir seperti itu, dengan kemonyongan yang menurut gue pas, dan dengan nada yang keluar dari pita suara yang membuat gue enggak bisa menahan badan gue untuk guling-guling. Yang ingin gue katakan untuk dia, ‘Rai, lo pantes dicipok lumba-lumba’. -_- Hubungannya apa.

            Sesuai dengan pepatah, di mana ada ke-ngakak-an, akan ada pula kesedihan. Bentar, deh. Itu pepatah dari mana? Enggak penting itu pepatah dari mana. Tapi itulah yang gue rasakan ditengah keramaian yang baru saja gue rasakan.

            Gue melihat pelangi mengiri kami pulang.
            Ironi sebenarnya. Di saat hujan turun, yang seharusnya orang-orang mengingat masa kenangan dalam memori, tapi gue malah bersenang-senang. Tapi, disaat pelangi datang setelah hujan usai, yang seharusnya orang-orang merasakan damai, tapi gue malah merasakan hadirnya kenangan dalam memori gue. Di saat itu gue merenung, gue berada dalam keramaian, tetapi tidak ikut andil dalam keramaian tersebut.

            Sejenak gue berpikir, bahwa kita akan merasakan keramaian jika jiwa kita ikut dalam keramaian itu. Tapi, seberapa ramai keaadaan di sekitar kita, jika jiwa kita tidak ikut dalam keramaian tersebut, tentu kita akan merasa sendiri. Dalam sunyi. But, no problem. Life as a wheel, right?

            Mulai saat itu lah gue dipanggil si nais dari Rancaupas. Hampir menyaingi si buta dari Gua Hantu, kan? Hahaha.

            See you!

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar :)

 
Copyright © Ilham Septiandi | Go Follow ilhxmseptixndi | WBDZGN willykiwil