Entah apa yang harus gue ungkapkan tentang keluarga gue. Rumit, kacau, dan bisa jadi freaky. Pokoknya, gue enggak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Gue cuma bisa mengungkapkan dengan kalimat-kalimat. Bedanya apa...
Kalau kemarin-kemarin gue menceritakan tentang teman dan kehidupan absurd gue, sekarang giliran gue untuk memaparkan aib tentang keluarga gue.
Sebenarnya bingung bagi gue untuk menceritakan keluarga gue. Karena menceritakan keluarga gue berarti menceritakan masa-masa kelam yang pernah dan akan gue lakukan semasa hidup gue. Kalau lo mampir ke rumah gue, kalian akan melihat banyak foto yang memperlihatkan kami merupakan keluarga yang sangat harmonis, agamis, style-is, dan buncis. Tapi, itu semua bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Semua itu hanya tipu daya dari keluarga gue kepada tamu-tamu yang datang.
Pernah waktu itu datang tamu. Karena di ruang tamu jelas terpampang foto keluarga gue, tamu itu bilang ke Bokap gue, 'Wah, Pa, keluarga bapak harmonis sekali.'. Bokap gue nyengir tanpa menyadari cabe bekas makan siang masih terjebak sambil meronta-ronta dalam giginya. Gue, mendengar hal ini, bersegara untuk berdoa, 'Segera sadarkan hamba-Mu yang sedang bertamu di sini, ya Tuhan. Semoga diberi keselamatan dari tipu daya papahku.'.
Faktanya, gue dan keluarga gue jarang banget berkomunikasi. Mungkin ini yang menyebabkan keluarga gue menjadi keluaga yang 'sakit'. Gue mengerti mengapa seperti ini. Hal ini sepertinya disebabkan karena Bokap gue selalu pulang malam dan gue pun termasuk anak yang jarang berada di rumah. Bukan untuk main, tetapi memang gue lebih nyaman berkegiatan di sekolah daripada di rumah.
Gue juga iri sebenarnya dengan teman-teman gue yang mempunyai keluarga 'normal' dengan ukuran 'standar'. Artinya enggak sama dengan keluarga gue. Setiap gue menceritakan tentang keluarga gue, teman gue cuma bilang, 'Loh, kok aneh sih? Kalau keluarga aku, sih....' Bla bla bla, mereka menceritakan semuanya dan berhasil membuat gue iri dengan semuanya.
Karena jarang berbincang, pernah waktu Bokap mau makan malam, gue ikut nimbrung di meja makan. Awalnya biasa. Gue makan, Bokap gue juga makan. Pada pertengahan, Bokap gue menawarkan sesuatu. Anehnya, Bokap gue menawarkan sesuatu tanpa memanggil nama gue. Jadi, dia cuma colek badan gue, lalu gue lihat jari telunjuknya mengarahkan ke suatu tempat. Karena gue penasaran, akhirnya gue berusaha untuk mencari arah telunjuk tersebut. Ternyata, mengarah ke tempat... kerupuk. Oh, gue mengerti. Ternyata Bokap gue ini menawarkan kerupuk.
Yang gue heran adalah cara Bokap gue menawarkan: Tanpa berbicara sedikitpun. Hanya bersuara, 'Hmm!'. Karena seperti di iklan-iklan banyak anak meniru bapaknya dalam melakukan sesuatu, kayak iklan pasta gigi, jadi ada seorang bapak yang pulang olahraga langsung makan tapi dicolek paki jari dan si anak mengikuti. Ini kalau si bapak pas pulang langsung buang air besar di ruang tamu, mungkin si anak akan mengikuti juga. Jadi nanti terlihat seorang bapak dan anak yang sedang kontes buang hajat terlama dan terpanjang. Tugas si ibu untuk mendokumentasikan kegiatan rutin tersebut. Huek!
Akhirnya gue menjawab tawaran bapak gue dengan bersuara, 'Hmm' sambil menggeleng-gelengkan kepala bertanda tidak mau. Kenapa gue enggak ngomong? Ya, karena alasan yang tadi. Banyak di iklan-iklan yang menandakann bahwa anak mengikuti bapaknya. Maka dari itu, gue sukses meniru gaya bapak gue. Huehehe.
Terlepas dari hubungan gue dan Bokap, gue juga punya kakak. Ya, kakak. Kakak yang menurut gue aneh.
Pernah waktu teman-teman gue main ke rumah, saat itu ada kakak gue lewat. Temen gue bilang, 'Ham, kenapa kamu sama kakakmu ga mirip? Padahal kan kamu sama adikmu mirip banget.' Gue diem. Gue berpikir. Dan gue tidak menemukan jawaban. Tapi gue jawab sekena otak gue, 'Hah? Gatau tuh. Hadiah dari snack seribuan kali.'. Setelah gue jawab, suasana berubah. Gue tengok teman-teman gue lagi guling-guling sambil ketawa. Gue lihat juga kotak tertawanya udah pada mau keluar tuh.
Gue juga heran sebetulnya. Banyak orang yang bilang kalau gue dan adik gue mirip banget kayak anak kembar. Padahal beda 2 tahun. Tapi, banyak yang bilang juga kalau gue dan kakak gue itu enggak mirip. Walaupun ada yang bilang juga, cuma mirip idungnya doang. Padahal beda usia gue dengan kakak gue juga cuma 3 tahun. Entahlah, mungkin dugaan gue selama ini memang benar. Kakak gue hadiah dari snack seribuan.
Pada waktu yang sama, kakak gue melakukan hal konyol yang mungkin bisa membuat hancur keluarga gue. Sungguh perlakuan yang tidak terpuji. Jadi, kakak gue ceritanya mau pergi. Entah sama siapa, yang pasti rapih. Mungkin mau maho-an kali ya. Jadi ceritanya kakak gue memanaskan mesin mobil selama beberapa menit lalu masuk kembali untuk mengambil barang. Gue enggak tau cara kakak gue memanaskan mobil seperti apa. Tapi, gue melihat dia membawa korek api. Entah mesinnya dibakar agar panas, entah untuk cemilan kakak gue. Gue enggak peduli. Setelah sudah lumayan panas, dia matiin itu mesin lalu masuk ke rumah, simpan kunci mobil, membawa kunci motor, dan dengan seketika pergi menggunakan motor.
Entah telah terjadi hal bodoh seperti apa di rumah gue. Yang pasti, itu adalah hal terbodoh yang pernah gue lihat. Teman gue tiba-tiba berkicau, 'Ham, kayaknya kakak kamu emang bener hadiah snack deh.'. Dia melanjutkan dengan ketawa. Gue cuma diem dan berdoa, 'Ya Tuhan, jika memang kakak-ku adalah hadiah snack seribuan, maka aku akan meminta ibuku untuk membeli snack seratus ribuan agar mendapat hadiah kakak yang lebih baik.'. Adik durhaka...
Seperti yang pernah gue bilang, keluarga gue memang bukan keluarga yang terlalu harmonis. Kebanyakan diam, membisu, dan layaknya tidak ada kehidupan. Semua hidup masing-masing dan sibuk terhadap pekerjaannya masing-masing.
Gue sebetulnya rindu masa-masa waktu gue kecil dulu. Masa di mana gue masih suka main bareng kakak gue, main bareng adik gue. Walaupun memang bermain tanpa 'berkomunikasi', setidaknya itu lebih dari cukup dibandingkan dengan sekarang yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing.
Pernah waktu gue kecil, gue main bareng kakak gue di kamar. Entah kenapa saat itu gue jadi marah, mungkin karena kakak gue jahil dan memang sebenarnya sifat kakak gue jahil. Jadi pas lagi main tiba-tiba jadi berantem. Enggak usah gue umbar di sini kali ya berantemnya kayak gimana. Pasti udah tau berantemnya anak kecil seperti apa. Ya, gue megang panah dan kakak gue megang panah. Wah? Ya, kagaklah. Karena kami merupakan pria yang tangguh dan tak terkalahkan, ceilah. Kami berdua berantem dengan tangan kosong.
Gue bersiap-siap melawan musuh sedarah gue ini, dia-pun bersiap-siap. Tanpa komando dari wasit (karena tidak ada), gue memberikan serangan pertama tetapi meleset. Musuh berusaha untuk menyerang kembali, ia mendaratkan kepalan tangannya tepat di tembok. Bodoh sekali. Gue memanfaatkan keadaan ini, gue bersiap untuk meluncurkan serangan ke dua. Alhasil, mendaratlah tangan gue di wajah kakak gue. Saat tangan gue mendarat, gue melihat ada yang melayang. Karena gue masih polos, gue kira itulah yang dinamakan pesawat. Tapi ternyata bukan. Itu adalah... gigi kakak gue. Pada awalnya gue mengira bahwa gigi bisa berubah warna dari putih menjadi hitam. Tapi ternyata bukan berubah warna, melainkan lepas dari rumahnya.
Masih ada kejadian yang gue lakukan bareng kakak gue. Pas gue baru aja disunat, kebetulan gue dan kakak gue disunatnya bareng. Oh iya, bagi yang belum tau sunat itu apa, gue bakal kasih tau intinya. Jadi sunat itu adalah pra-proses dari pembuatan kerupuk kulit. Jadi, bagi kalian pecinta kerupuk kulit berhati-hati, ya. Siapa tau kerupuk kulit yang lo makan itu dari kulit punya gue dan kakak gue. Huahaha.
Kembali ke kejadian tadi. Jadi, setelah sunat, gue dan kakak gue menjadi lebih sering berdua. Mungkin karena kami merasakan penderitaan yang sama. Alhasil, kami menghabiskan waktu dengan bermain playstation sampai malam hari. Hingga suatu malam, ketika jari-jemari kami sedang sibuk memainkan stik, gue mendengar suara orang yang membuka pagar. Awalnya gue kira itu tetangga yang ingin bertamu, jadi gue diemin aja. Lama sudah tak terdengar ada yang membuka pintu, gue coba untuk mengecek ke luar. Dan ternyata... gue merasakan sesuatu yang ganjil. Hal yang ganjil itu adalah ketika sore hari gue masih melihat sepeda gue terparkir di halaman rumah, dan baru saja gue melihat bahwa sepeda itu telah hilang. 'Kampret! Ternyata tadi bukan suara tetangga, itu suara maling! Bego...'. Gue menggerutu dalam hati.
Akhirnya, dapat gue simpulkan bahwa bermain bersama kakak itu malapetaka.
Terlepas dari hubungan gue dan kakak, gue juga punya adik. Ya, ini lah yang sering diperbincangkan oleh teman-teman gue. Kata mereka gue mirip banget dan malah dikira kembar. Yang lebih parah lagi, adik gue adalah gue saat sedang memakai rambut palsu. Owcitmen.
Kali ini akan gue luruskan.
Adik gue bukanlah gue saat memakai rambut palsu. Melainkan gue saat malam hari. Eh bukan, dia emang adik gue. Dan kami tidak kembari. Itu.
Masih sama, dulu waktu gue masih duduk di bangku sekolah dasar. Gue masih sering main dengan kakak terutama dengan adik gue. Tetapi keaadan menjadi berubah setelah negara api menyerang. Itu Avatar kali...
Jadi, pernah gue main lompat tinggi sama adik gue di halaman rumah. Bagi yang belum tau lompat tinggi seperti apa, itu ada sejenis permainan melewati tali yang terbuat dari kulit hasil sunat. Eh bukan, dari sambungan beberapa karet gelang. Nah, jadi permainannya dimulai dari yang pendek terlebih dahulu lalu jika sudah bisa melewati, saatnya naik level ke level yang lebih tinggi. Artinya talinya-pun lebih tinggi. Nah, saat talinya sudah setinggi leher gue. Gue mencoba untuk melewati tanpa menyentuh talinya. Tapi entah mengapa padahal tak ada angin juga tak ada badai, gue berhasil melewati tali tersebut. Dengan mendarat tanpa kaki. Hebat kan? Iya hebat. Gue mendarat dengan kepala gue. Karena jika ada aksi maka akan ada reaksi, maka aksi mendarat dengan kepala menimbulkan reaksi. Reaksinya adalah benjolan yang sangat mengganggu. Dan itu tidak nais sama sekali.
Bagi yang tidak tau 'nais', bisa baca di posting-an gue sebelumnya: Di balik kata nais.
Sekali lagi, dapat gue simpulkan bahwa bermain bersama adik itu malapetaka. Jadi, intinya adalah bermain bersama kakak dan adik itu adalah malapetaka. Waw...
Intinya adalah gue menamakan keluarga gue dengan sebutan 'Keluarga Bisu'. Mengapa? Karena memang jarang banget yang namanya berkomunikasi. Gue aja, pergi pagi dan pulang pasti malam hari. Paling cepat pulang sekitar maghrib. Kalau banyak orang yang bilang rumah adalah tempat tinggal pertama dan sekolah adalah tempat tinggal kedua. Untuk gue, itu semua salah. Untuk gue, itu semua terbalik. Sekolah adalah tempat tinggal pertama dan rumah adalah tempat tinggal kedua. Karena gue memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dibandingkan di rumah. Di rumah, gue cuma numpang makan, mandi, dan tidur. Sisanya gue kerjakan di sekolah.
Gue jadi khawatir dengan masa depan keluarga gue nanti akan seperti apa. Enggak bisa dibayangkan sama sekali. Suram. Jadi misalkan pas gue dan kakak gue udah pisah, dan kebetulan kakak gue ulang tahun. Gue nelpon, 'Kak, selamat ulang tahun, ya!'. Gue tutup telepon. Kan enggak lucu. Tapi, selama masih ada waktu, gue berusaha untuk merubah itu semua. Huwoo!
Temen gue, Nidia juga pernah bilang, 'Iya, enggak berkomunikasi bukan berarti benci, kan?'. Gue menganggukkan kepala antara setuju dan tidak. Masalahnya gue kadang benci kadang enggak. Huahaha. Bercanda deng. Gue jawab dengan mantap, 'Bukan!'.
Inti untuk kali kesekian adalah keluarga gue mengalami masa di mana menjadi 'Keluarga Bisu' untuk sementara, dan semoga pada akhirnya akan ada 'obat' yang membuat keluarga gue menjadi tidak 'bisu' kembali. Aamiin.
Yang gue heran adalah cara Bokap gue menawarkan: Tanpa berbicara sedikitpun. Hanya bersuara, 'Hmm!'. Karena seperti di iklan-iklan banyak anak meniru bapaknya dalam melakukan sesuatu, kayak iklan pasta gigi, jadi ada seorang bapak yang pulang olahraga langsung makan tapi dicolek paki jari dan si anak mengikuti. Ini kalau si bapak pas pulang langsung buang air besar di ruang tamu, mungkin si anak akan mengikuti juga. Jadi nanti terlihat seorang bapak dan anak yang sedang kontes buang hajat terlama dan terpanjang. Tugas si ibu untuk mendokumentasikan kegiatan rutin tersebut. Huek!
Akhirnya gue menjawab tawaran bapak gue dengan bersuara, 'Hmm' sambil menggeleng-gelengkan kepala bertanda tidak mau. Kenapa gue enggak ngomong? Ya, karena alasan yang tadi. Banyak di iklan-iklan yang menandakann bahwa anak mengikuti bapaknya. Maka dari itu, gue sukses meniru gaya bapak gue. Huehehe.
Terlepas dari hubungan gue dan Bokap, gue juga punya kakak. Ya, kakak. Kakak yang menurut gue aneh.
Pernah waktu teman-teman gue main ke rumah, saat itu ada kakak gue lewat. Temen gue bilang, 'Ham, kenapa kamu sama kakakmu ga mirip? Padahal kan kamu sama adikmu mirip banget.' Gue diem. Gue berpikir. Dan gue tidak menemukan jawaban. Tapi gue jawab sekena otak gue, 'Hah? Gatau tuh. Hadiah dari snack seribuan kali.'. Setelah gue jawab, suasana berubah. Gue tengok teman-teman gue lagi guling-guling sambil ketawa. Gue lihat juga kotak tertawanya udah pada mau keluar tuh.
Gue juga heran sebetulnya. Banyak orang yang bilang kalau gue dan adik gue mirip banget kayak anak kembar. Padahal beda 2 tahun. Tapi, banyak yang bilang juga kalau gue dan kakak gue itu enggak mirip. Walaupun ada yang bilang juga, cuma mirip idungnya doang. Padahal beda usia gue dengan kakak gue juga cuma 3 tahun. Entahlah, mungkin dugaan gue selama ini memang benar. Kakak gue hadiah dari snack seribuan.
Pada waktu yang sama, kakak gue melakukan hal konyol yang mungkin bisa membuat hancur keluarga gue. Sungguh perlakuan yang tidak terpuji. Jadi, kakak gue ceritanya mau pergi. Entah sama siapa, yang pasti rapih. Mungkin mau maho-an kali ya. Jadi ceritanya kakak gue memanaskan mesin mobil selama beberapa menit lalu masuk kembali untuk mengambil barang. Gue enggak tau cara kakak gue memanaskan mobil seperti apa. Tapi, gue melihat dia membawa korek api. Entah mesinnya dibakar agar panas, entah untuk cemilan kakak gue. Gue enggak peduli. Setelah sudah lumayan panas, dia matiin itu mesin lalu masuk ke rumah, simpan kunci mobil, membawa kunci motor, dan dengan seketika pergi menggunakan motor.
Entah telah terjadi hal bodoh seperti apa di rumah gue. Yang pasti, itu adalah hal terbodoh yang pernah gue lihat. Teman gue tiba-tiba berkicau, 'Ham, kayaknya kakak kamu emang bener hadiah snack deh.'. Dia melanjutkan dengan ketawa. Gue cuma diem dan berdoa, 'Ya Tuhan, jika memang kakak-ku adalah hadiah snack seribuan, maka aku akan meminta ibuku untuk membeli snack seratus ribuan agar mendapat hadiah kakak yang lebih baik.'. Adik durhaka...
Seperti yang pernah gue bilang, keluarga gue memang bukan keluarga yang terlalu harmonis. Kebanyakan diam, membisu, dan layaknya tidak ada kehidupan. Semua hidup masing-masing dan sibuk terhadap pekerjaannya masing-masing.
Gue sebetulnya rindu masa-masa waktu gue kecil dulu. Masa di mana gue masih suka main bareng kakak gue, main bareng adik gue. Walaupun memang bermain tanpa 'berkomunikasi', setidaknya itu lebih dari cukup dibandingkan dengan sekarang yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing.
Pernah waktu gue kecil, gue main bareng kakak gue di kamar. Entah kenapa saat itu gue jadi marah, mungkin karena kakak gue jahil dan memang sebenarnya sifat kakak gue jahil. Jadi pas lagi main tiba-tiba jadi berantem. Enggak usah gue umbar di sini kali ya berantemnya kayak gimana. Pasti udah tau berantemnya anak kecil seperti apa. Ya, gue megang panah dan kakak gue megang panah. Wah? Ya, kagaklah. Karena kami merupakan pria yang tangguh dan tak terkalahkan, ceilah. Kami berdua berantem dengan tangan kosong.
Gue bersiap-siap melawan musuh sedarah gue ini, dia-pun bersiap-siap. Tanpa komando dari wasit (karena tidak ada), gue memberikan serangan pertama tetapi meleset. Musuh berusaha untuk menyerang kembali, ia mendaratkan kepalan tangannya tepat di tembok. Bodoh sekali. Gue memanfaatkan keadaan ini, gue bersiap untuk meluncurkan serangan ke dua. Alhasil, mendaratlah tangan gue di wajah kakak gue. Saat tangan gue mendarat, gue melihat ada yang melayang. Karena gue masih polos, gue kira itulah yang dinamakan pesawat. Tapi ternyata bukan. Itu adalah... gigi kakak gue. Pada awalnya gue mengira bahwa gigi bisa berubah warna dari putih menjadi hitam. Tapi ternyata bukan berubah warna, melainkan lepas dari rumahnya.
Masih ada kejadian yang gue lakukan bareng kakak gue. Pas gue baru aja disunat, kebetulan gue dan kakak gue disunatnya bareng. Oh iya, bagi yang belum tau sunat itu apa, gue bakal kasih tau intinya. Jadi sunat itu adalah pra-proses dari pembuatan kerupuk kulit. Jadi, bagi kalian pecinta kerupuk kulit berhati-hati, ya. Siapa tau kerupuk kulit yang lo makan itu dari kulit punya gue dan kakak gue. Huahaha.
Kembali ke kejadian tadi. Jadi, setelah sunat, gue dan kakak gue menjadi lebih sering berdua. Mungkin karena kami merasakan penderitaan yang sama. Alhasil, kami menghabiskan waktu dengan bermain playstation sampai malam hari. Hingga suatu malam, ketika jari-jemari kami sedang sibuk memainkan stik, gue mendengar suara orang yang membuka pagar. Awalnya gue kira itu tetangga yang ingin bertamu, jadi gue diemin aja. Lama sudah tak terdengar ada yang membuka pintu, gue coba untuk mengecek ke luar. Dan ternyata... gue merasakan sesuatu yang ganjil. Hal yang ganjil itu adalah ketika sore hari gue masih melihat sepeda gue terparkir di halaman rumah, dan baru saja gue melihat bahwa sepeda itu telah hilang. 'Kampret! Ternyata tadi bukan suara tetangga, itu suara maling! Bego...'. Gue menggerutu dalam hati.
Akhirnya, dapat gue simpulkan bahwa bermain bersama kakak itu malapetaka.
Terlepas dari hubungan gue dan kakak, gue juga punya adik. Ya, ini lah yang sering diperbincangkan oleh teman-teman gue. Kata mereka gue mirip banget dan malah dikira kembar. Yang lebih parah lagi, adik gue adalah gue saat sedang memakai rambut palsu. Owcitmen.
Kali ini akan gue luruskan.
Adik gue bukanlah gue saat memakai rambut palsu. Melainkan gue saat malam hari. Eh bukan, dia emang adik gue. Dan kami tidak kembari. Itu.
Masih sama, dulu waktu gue masih duduk di bangku sekolah dasar. Gue masih sering main dengan kakak terutama dengan adik gue. Tetapi keaadan menjadi berubah setelah negara api menyerang. Itu Avatar kali...
Jadi, pernah gue main lompat tinggi sama adik gue di halaman rumah. Bagi yang belum tau lompat tinggi seperti apa, itu ada sejenis permainan melewati tali yang terbuat dari kulit hasil sunat. Eh bukan, dari sambungan beberapa karet gelang. Nah, jadi permainannya dimulai dari yang pendek terlebih dahulu lalu jika sudah bisa melewati, saatnya naik level ke level yang lebih tinggi. Artinya talinya-pun lebih tinggi. Nah, saat talinya sudah setinggi leher gue. Gue mencoba untuk melewati tanpa menyentuh talinya. Tapi entah mengapa padahal tak ada angin juga tak ada badai, gue berhasil melewati tali tersebut. Dengan mendarat tanpa kaki. Hebat kan? Iya hebat. Gue mendarat dengan kepala gue. Karena jika ada aksi maka akan ada reaksi, maka aksi mendarat dengan kepala menimbulkan reaksi. Reaksinya adalah benjolan yang sangat mengganggu. Dan itu tidak nais sama sekali.
Bagi yang tidak tau 'nais', bisa baca di posting-an gue sebelumnya: Di balik kata nais.
Sekali lagi, dapat gue simpulkan bahwa bermain bersama adik itu malapetaka. Jadi, intinya adalah bermain bersama kakak dan adik itu adalah malapetaka. Waw...
Intinya adalah gue menamakan keluarga gue dengan sebutan 'Keluarga Bisu'. Mengapa? Karena memang jarang banget yang namanya berkomunikasi. Gue aja, pergi pagi dan pulang pasti malam hari. Paling cepat pulang sekitar maghrib. Kalau banyak orang yang bilang rumah adalah tempat tinggal pertama dan sekolah adalah tempat tinggal kedua. Untuk gue, itu semua salah. Untuk gue, itu semua terbalik. Sekolah adalah tempat tinggal pertama dan rumah adalah tempat tinggal kedua. Karena gue memang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dibandingkan di rumah. Di rumah, gue cuma numpang makan, mandi, dan tidur. Sisanya gue kerjakan di sekolah.
Gue jadi khawatir dengan masa depan keluarga gue nanti akan seperti apa. Enggak bisa dibayangkan sama sekali. Suram. Jadi misalkan pas gue dan kakak gue udah pisah, dan kebetulan kakak gue ulang tahun. Gue nelpon, 'Kak, selamat ulang tahun, ya!'. Gue tutup telepon. Kan enggak lucu. Tapi, selama masih ada waktu, gue berusaha untuk merubah itu semua. Huwoo!
Temen gue, Nidia juga pernah bilang, 'Iya, enggak berkomunikasi bukan berarti benci, kan?'. Gue menganggukkan kepala antara setuju dan tidak. Masalahnya gue kadang benci kadang enggak. Huahaha. Bercanda deng. Gue jawab dengan mantap, 'Bukan!'.
Inti untuk kali kesekian adalah keluarga gue mengalami masa di mana menjadi 'Keluarga Bisu' untuk sementara, dan semoga pada akhirnya akan ada 'obat' yang membuat keluarga gue menjadi tidak 'bisu' kembali. Aamiin.
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)